Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Hidup Andreas Anangguru Yewangoe "Perjuangan Untuk Menjadi Doktor Teologi"

 


Narasi ini saya buat bukan untuk menonjolkan diri, melainkan sebagai catatan pengalaman, siapa tahu bermanfaat bagi siapa saja yang berjuang di jalan yang sama.

Bermula dari penunjukan saya oleh GKS utk menjadi dosen teologi pada Akademi Teologi Kupang yang baru dibuka pada 8 Februari 1971. Dalam kerjasama dgn GMIT proyek bersama itu telah direncanakan lama oleh kedua gereja. GKS "menuntut" mata kuliah Dogmatika dibawakan oleh dosen GKS. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin ini hanya mengikuti kebiasaan di Belanda saja.

Sesungguhnya sdr Pdt Nikolaas He yang semula diharapkan menjadi dosen. Namun beliau menolak karena belum terlalu lama menjadi pendeta jemaat Waingapu. Maka saya yang baru saja pada 1969 tamat dari STT Jakarta didaulat utk menggantikan posisi Pak Niko. Masa vicariat saya dipercepat, dimulai di GKS Payeti, berpindah ke SGI Lewa, lalu ke GKS Waingapu. Di jemaat inilah saya dithabiskan sebagai pendeta setelah sebelumnya menjalani ujian peremptoir. Jemaat ini pulalah yang mengutus saya menjalankan pelayanan umum sebagai dosen pada AThKupang. Jadi jabatan kependetaan saya terikat pada GKS Waingapu. Saya menikah pada Desember 1970 dan setelah itu berangkat ke Kupang.

Di Kupang, Akademi yang baru dibuka itu dipimpin oleh Pdt. L. Radja Haba. Beliau baru saja menyelesaikan tugas sebagai Ketua Sinode GMIT. Dosen-dosen yang lain adalah Drs. H. Reenders (utusan GKN), Ds. C.W.Oppelaar (utusan NHK). Sedangkan dosen tidak tetap adalah, Rev. Stephens (Australia), Rev. D. Tieman (Australia), Pdt. Chr. Banoet (GMIT). Pak Banoet waktu itu masih menjadi rektor Sekolah Teologi Tarus yang dalam proses penutupan. Dosen-dosen tdk tetap lainnya, Ibu Mia Noach (Sejarah), Chr. Ndaomanu ( bhs Indonesia dan musik), Titus Ully (Kewarganegaraan), Rudy Leiwakabessy (olah raga). Karena orientasi ATK adalah masyarakat pedesaan, Pak Frans (PLKK, skrg Ya. Alpha-Omega) menjadi pembimbing tetap.

Sesuai dengan kesepakatan, saya ditugaskan mengajar Dogmatika. Tetapi krn baru tingkat 1, maka dogmatika blm diberikan. Dimodifikasi menjadi Ajaran Kristen. Kendati demikian, dasar-dasar dogmatika sdh terkandung di dalamnya. Mantan mahasiswa saya memberi "kesaksian" bhw Ajaran Kristen itu sangat membantu mereka kemudian. Hal itu antara lain dikatakan oleh John Haba alm. yang belakangan menjadi Profesor Riset di LIPI. Mantan mhs pertama saya yg lain adalah antara lain Leonard Halle, sekarang dosen di STT Cipanas.

Sebenarnya di STT Jakarta, Dogmatika bukanlah matakuliah yang terlalu digemari, walaupun tidak dibenci juga. Hal itu disebabkan antara lain karena cara penyampaian dosen yang tidak menarik. Dogmatika seakan-akan merupakan vak yang mati. Kendati demikian, di ujian akhir STT Jkt saya memperoleh nilai 90. Karena ditugaskan membawakan vak ini, saya mendalami kembali buku-buku Dogmatika dan buku-buku lain yang punya sangkut-paut dgn itu.

Pada 1972 Pak Radja Haba hrs melanjutkan studi di Negeri Belanda. Timbul masalah, siapa yang akan menjadi Rektor ATK? (Dulu pimpinannya disebut Rektor). Orang asing tdk boleh menjadi rektor sesuai peraturan pemerintah. Harus orang Indonesia. Satu-satunya org Indonesia yang ada, ya saya. Tetapi saya masih sangat muda. Usia saya baru 27 tahun. Itulah sebabnya banyak anggota Yayasan skeptis. Ttp karena tdk ada jalan lain, sayapun diangkat menjadi rektor. Ternyata saya dapat menjalankan tugas itu dengan baik. Diadakan penyesuaian-penyesuaian kurikulum sehingga tamatan ATK yang waktu itu mempunyai derajad Sarjana Muda bisa memperoleh kesempatan melanjutkan ke tingkat sarjana entah di Jakarta atau di Yogyakarta. Saya juga pernah diwawancarai oleh surat kabar Trouw dari Belanda. Berita tentang saya di beri judul di halaman muka, "De  jongste rector in de wereld" (Rektor termuda di dunia).

Pada 1976 saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di Negeri Belanda.

Berita bahwa saya bisa melanjutkan studi di Belanda diterima dari Sectie Oostelijk Indonesie, Zending van de Gereformeerde Kerken in Nederland. Badan inilah yang mensponsori studi saya nanti di Vrije Universiteit Amsterdam. Berita itu saya terima dengan gembira dan sekali gus gelisah. Gembira sebab berstudi di luar negeri waktu itu masih langka. Apalagi, konon sejak Sutarno menyelesaikan studi di VU pada 1970 belum pernah ada lagi orang Indonesia ke universitas tersebut. Gelisah sebab saya sama sekali tidak tahu bahasa Belanda. Saya diberitau bahwa semua kuliah dan diskusi nanti dalam bahasa Belanda. Waktu itu perguruan-perguruan tinggi di Belanda masih sangat konvensional. Bahasa Belanda adalah bahasa utama.
Di STT Jakarta dulu memang ada kursus bahasa Belanda dipimpin Ibu Sudarmo. Namun sifatnya fakultatip. Karena itu lebih banyak saya bolos. Lagi pula tidak pernah terbayang bahwa suatu waktu nanti saya akan studi di Belanda. Alhasil, hasil akhirnya nol besar. Selain itu ada juga yang nyinyir, seakan-akan kami yang berasal dari generasi ssdh perang pasti gagal kalau studi di Belanda karena tidak menguasai bahasa tersebut. Namun dosen saya Prof. Ihromi memberikan rasa optimisme. Ia bilang kepada saya: "Tidak ada bahasa manusia yang tidak bisa dipelajari." Kegelisahan lain adalah ketidakjelasan status saya. Zending mengatakan, anda nanti studi orientasi saja. Tidak ada janji utk mencapai gelar akademik. Ini juga punya sangkut-paut utk membawa keluarga atau tidak. Waktu itu kami mempunyai seorang putra berusia 3 tahun. Singkat ceritera kami berangkat bersama sebagai keluarga sedangkan status studi saya nanti dibicarakan di Belanda setelah bertemu dengan Guru Besar Pembimbing.

Kami berangkat ke Belanda pada bulan Februari 1976. Ini masih musim dingin. Tentu baru buat kami. Di sana-sini masih ada bekas-bekas salju. Kami berangkat dengan Singapore Airlines. Penjemput kami di Schiphol, pdt Piet van Berge salah faham. Dia mengira kami naik KLM. Karena itu ketika dia tdk melihat kami ia menyangka kami belum jadi datang. Jadi dia pulang saja. Ternyata kami baru mendarat 2 jam kemudian. Tentu saja kami bingung krn tidak ada jemputan. Jadi kami ambil taksi saja menuju Zendigshuis di Oogstgeest. Inilah alamat yg biasanya dituju oleh orang Indonesia. Ini adalah kantor dari Zendingsraad der Nederlandsch Hervormde Kerk. Tetapi sekali gus juga ada tempat menginap di situ. Akhirnya semua berjalan baik.

Pdt. Piet van Berge adalah Sekretaris Sectie Oostelijk Indonesie. Dulu dia Pendeta Utusan (Misionaris) di Sumba. Lalu menjadi dosen teologi di STT INTIM Makasar. Dialah yang terus-menerus membantu kami dalam proses studi itu. Kami beruntung karena begitu banyak mantan-mantan misionaris yang dulu bekerja di Sumba. Mereka selalu tampil membantu kami.

Kesibukan pertama saya adalah belajar Bahasa Belanda. Saya diberi kesempatan belajar intensip bhs Belanda selama 3 bulan di Fakultas Sastra Vrije Universiteit. Sungguh-sungguh intensip, setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu, mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Pesertanya dari seluruh dunia. Menarik juga melihat orang Israel duduk berdampingan dgn orang Siria atau Iran. Banyak pemuda pengungsi dari Chili mengikuti kursus ini. Rupanya terjadi pergolakan politik di Chili pada waktu itu. Presidennya, Allende berorientasi sosialis. Konon Amerika Serikat tidak berkenan dengan ini. Allende terbunuh atau dibunuh. Konon, CIA terlibat dalam peristiwa ini. Maka terjadilah krisis politik. Banyak orang lari ke luarnegeri, antara lain ke Belanda. Kembali ke kelas bahasa itu, setiap orang dilarang memakai bahasa lain selain bahasa Belanda. Jadi masing-masing membawa kamus Belanda dgn bhsnya sendiri. Saya masih ingat pembimbingnya, namanya Mevr. Marijke. Setelah 3 bulan saya dinyatakan lulus. Namun itu tidak berarti bahwa kita dengan sendirinya lancar membaca buku-buku teologi. Lancar mungkin utk pergaulan sehari-hari tetap untuk diskusi yang mendalam ada pergumulannya sendiri lagi.

Bagaimanakah status studi saya? Hanya orientasi saja? Atau juga untuk memperoleh gelar akademik? Rupanya hal itu dibahas oleh sebuah komisi di Belanda. Tentu saja mereka mempertimbangkan alma mater saya STT Jakarta yang selama ini telah menghasilkan orang-orang bermutu. Utk itu kpd saya diminta mengirimkan karya tulis terakhir saya di STT Jkt. Sistem studi di STT Jkt dulu masih gaya lama. Blm ada sistem kredit. Yang ada adalah sistem naik tingkat. Lama studi 6 tahun. Karya tulis atau skripsi terdiri atas dua yaitu Biblika dan yg kedua bidang lainnya. Utk biblika saya memilih PL dan saya menulis Mazmur 29. Ini dibimbing oleh Dr. Arie de Kuiper yg juga adalah penerjemah di LAI. Skripsi kedua saya pilih Teologi Sistimatika dgn penekanan pada Apologetika. Topiknya Humanisme dibimbing oleh Dr. Lendeert Oranje, dosen STT Jakarta. Kedua karya tulis ini dikirim ke Belanda dan dibaca oleh Prof. A.G. Honig, Guru Besar di Kampen. Dulunya ia dosen di STT INTIM Makasar. Makanya ia lancar berbahasa Indonesia. Penilaiannya positip sekali. Rekomendasinya kpd Komisi saya bisa studi utk mencapai gelar. Ttp bagaimanakah derajad S.Th. dari Jkt itu di hadapan Perguruan Tinggi di Belanda? Komisi menilainya sebagai setara dgn "Candidat" Belanda. Maka utk memperoleh Drs. Teologi harus studi lagi selama 2-3 tahun. Perlu diingat bhw Drs. Belanda ini tidak sama dgn Drs. Indonesia. Drs. Belanda malah lebih tinggi dari Master dlm sistem Amerika. Mrk yg punya derajad ini bisa langsung menulis disertasi. Singkat kata, status saya skrg jelas. Setidak-tidaknya saya akan mencapai Drs Teologi nanti.

Bgmn pelaksanaannya? Sudah pasti saya mengambil Dogmatika sebagai vak pokok (Hoofdvak). Saya bertemu dgn Koordinator Studi, Drs. Mr. P. Estie. Ia menyarankan saya bertemu dgn Prof. Dr. J. Veenhof, Guru Besar bidang ini. Prof ini sangat ramah. Setelah ia tahu bahwa saya mengambil vak itu, ia menyarankan saya belajar Bhs. Jerman juga sebab banyak buku ditulis dlm bhs tersebut. Kalau bisa bahasa Latin juga. Waduh, tentu ini berat juga. Dulu di SMA Kristen Waikabubak memang saya belajar bhs Jerman. Malah buku pegangannya saya msh ingat: Deutsche Sprachlehre fuer Auslaender. Ttp tdk pernah dipakai dlm praktek. Jadi sdh lupa. Skrg saya mulai dari nol dgn mengikuti kursus bhs Jerman. Targetnya minimal bisa membaca buku dlm bhs Jerman. Untungnya bhs Jerman "dekat" dgn dgn bhs Belanda, seperti "kedekatan" bhs Mamboru dgn Kambera. Selebihnya ya lihat kamus.  Bgmn dgn bhs Latin? Ini lebih berat lagi karena di STT dulu juga fakultatip. Namun saya ikut juga kursus bhs ini pada malam hari. Tagetnya agar bisa membaca naskah dari bapa-bapa gereja. Terus terang krn tdk pernah dipakai lagi bhs ini saya sdh lupa skrg. Untung bhs Yunani dan Ibrani dianggap sdh memadai berkat "bekal" dari STT Jakarta dulu.

Dengan ketentuan-ketentuan ini saya mulai berstudi. Prof. Veenhof memberikan paket buku-buku yg harus dibaca dan dilaporkan. Ia mempercayakan asistennya, Jan Greeven mendampingi saya. Tetapi baru sebulan Greeven sdh mendapat pekerjaan baru sebagai redaktur surat kabar Trouw. Di samping itu saya juga mengikuti kuliah-kuliah dan berbagai "werk colleges" ( kuliah kerja). Ini sangat membantu untuk memperlancar bahasa Belanda.

Dari paket buku yang diberikan Prof. Veenhof kepada saya, beliau meminta saya membaca lebih dahulu Magnalia Dei karangan Dr. H. Bavinck. Buku ini tebal sekitar 500-an halaman. Sesungguhnya buku ini semacam "ringkasan" dari seri 4 jilid buku Gereformeerde Dogmatiek oleh penulis yang sama. Mungkin maksud beliau saya fahami dahulu garis berpikir Bavinck sebelum saya nanti membaca buku-buku serinya yang tebal-tebal itu. Herman Bavinck sendiri adalah dogmatikus terkemuka di kalangan gereja-gereja gereformeerd ttp yang pengaruhnya cukup besar ke mana-mana termasuk di Indonesia ini. Mula-mula dia Guru Besar di Theologische Hogeschool di Kampen, lalu kemudian pindah ke Vrije Universiteit di Amsterdam.

Maka saya mulai membacanya. Seperti saya katakan dlm tulisan sebelumnya, kendati saya sdh "lulus" kursus Bahasa Belanda, tdk dengan sendirinya mumpuni membaca dan memahami buku-buku teologi. Ternyata tdk mudah membacanya. Saya memakai kamus. Tdk mudah juga sebab idioms dan gaya bahasa hrs sungguh-sungguh dikuasai. Setelah sekian jam membaca ternyata saya baru berhasil membaca 1 halaman. Kadang-kadang 1 setengah halaman. Bayangkan dari pagi sampai sore saya hanya berhasil membaca 1 sampai 1 setengah halaman. Saya hitung-hitung 500 halaman bisa 1 tahun saya membacanya. Itu baru satu buku. Lalu bgmn dgn buku-buku lainnya? Kapan studi ini bisa selesai? Setengah putus asa saya menelpon Prof. Veenhof. Saya secara terus terang mengatakan, saya mau pulang ke Indonesia. Bahasa Belanda saya gagal. Tdk bisa baca buku. Tentu saja beliau sangat kaget. Wah mengapa begitu? beliau bertanya. Saya ceriterakan duduk soalnya. Reaksi beliau cukup menenangkan. "O ya, saya faham", katanya. Tidak apa-apa. Sabar saja. Baca saja sejauh anda mampu. Hari ini satu halaman. Besok bisa lebih cepat dapat 2 halaman. Dan seterusnya. Akhirnya anda bisa baca 1 buku satu hari, dstnya. Tidak usah terlalu terburu-buru, kata beliau.

Kembali rasa optimisme saya bertumbuh. Benar yg beliau katakan. Membaca makin lama makin cepat. Idioms dan gaya bahasa makin dikuasai. Membaca makin menjadi sesuatu yang nikmat. Saya juga beruntung sebab saya dibantu oleh Dr. Sy. Rosjen. Dia dulu dosen filsafat di UKSW Salatiga. Beliau tinggal di Harderwijk. Sekali seminggu saya ke rumah beliau utk berdiskusi dan mengecek pemahaman saya.

Setelah saya membaca 3 atau 4 buku saya melakukan pertemuan dgn profesor saya. Sebenarnya ini semacam tentamen juga karena pada akhir percakapan diberi nilai. Ia bertanya kepada saya, apakah saya mau berbahasa Belanda atau Inggris? Saya menjawab, bahasa Belanda saja krn sekaligus saya mau melatih dan mencek ketrampilan berbahasa Belanda saya. Ternyata diskusi itu berjalan baik, kendati tentu saja bhs Belanda saya tdk sempurna betul. Tokh Profesor saya senang sekali. Di kertas nilai saya ssdh percakapan itu selesai, ia mencantumkan angka 89 sebagai nilai. Saya meninggalkan kediamannya di Stadionweg 111 dgn gembira dan optimisme. Sejak itu saya sdh bisa membaca buku-buku dengan lancar.

Sesuai kebiasaan di Belanda, di samping yg disebut Vak Pokok (Hoofdvak), ada juga yang disebut vak-vak pelengkap (bijvakken). Biasanya 2 vak pelengkap. Tentu saja di samping Theologicum Biblicum yang merupakan kewajiban bagi siapa saja.

Saya disarankan mengambil Etika dan Filsafat. Etika berada di bawah bimbingan Prof. Dr. H. M. Kuitert. Dia dulunya adalah promotor dari Dr. Sutarno ketika dia mengambil doktor di VU. Waktu itu Sutarno menulis disertasi tentang model Kuyper bagi suatu partai Kristen (Het Kuyperianse model voor een Christelijke Politieke Partij). Sutarno ingin mempelajari model Kuyper (dia dulu pelopor Doleansi yang bersama-sama dgn Afscheiding mendirikan De Gereformeerde Kerken in Nederland di akhir abd ke-19 sekali gus juga pendiri VU) dan pernah menjadi Perdana Menteri Belanda ketika diterapkan politik etis/ethische politiek di Nederlandsch-Indie/ Indonesia di era kolonial) dalam hal pendirian partai politik Kristen dan apakah bisa diterapkan bagi Parkindo di Indonesia. Saya juga mendapat sepaket buku yg perlu dipelajari dari dia di samping mengikuti kuliah-kuliahnya. Di masa menjelang akhir-akhir hidupnya Kuitert makin bergeser ke "kiri". Beliau juga cukup ramah kendati tentu saja tetap "zakelijk". Rumahnya di Amstelveen tidak terlalu jauh dari kediaman kami.

Filsafat berada dibawah bimbingan Prof. Dr. G. Meuleman. Dia juga memberi paket buku-buku filsafat yang membentang mulai dari era Yunani hingga ke filsafat bahasa. Ia juga menganjurkan saya utk ikut kuliah di fakultas Filsafat VU , di matakuliah yang dia asuh. Dia dulunya adalah promotor dari Dr. L. Oranje, dosen di STT Jakarta ketika saya berstudi di sana. Disertasinya berjudul, God en Wereld. Kawan-kawan Belanda banyak yang heran mengapa saya memilih Meuleman. Alasannya kuliah-kuliahnya sulit difahami. Gugup juga saya. Kalau yang Belanda saja sulit, apalagi saya. Memang benar. Sama sekali tdk mudah mengikutinya. Mungkin dia terlalu pintar sehingga pikirannya menjelajah ke sana kemari tanpa bisa mengartikulasikannya secara sistimatis. Namun saya pelajari saja paket buku yg diberikannya. Ketika saya merasa cukup dan minta bertemu, ya semacam tentamen, saya tdk mengerti apapun yang dia katakan. Alhasil saya gagal. Namun dia masih berbaik hati. Dia bertanya apakah kenal Dr. Oranje? Saya bilang bukan saja kenal tetapi juga dosen saya di Jakarta. Memang pada waktu itu Pak Oranje sdh menjadi dosen di Kampen. Meuleman menelpon Oranje utk membantu saya dan sekalian nanti mengambil tentamen atas nama dia. Jadilah saya bersama Oranje menjelajahi buku-buku filsafat utk pada akhirnya ujian dengan hasil yang baik.

Setelah hampir dua tahun Pembimbing utama saya sdh merasa cukup dengan pembimbingan itu. Ia menganjurkan saya memilih topik skripsi. Itu berarti studi akan segera selesai kalau sdh ada ujian skripsi dan lulus. 

Setelah melalui masa-masa yg sulit ini proses pembacaan dan percakapan buku menjadi lebih lancar. Prof. Veenhof, Pembimbing saya memberi tahu setelah kurang-lebih dua tahun bergumul untuk memilih topik skripsi. Andaikata ini selesai dan dilakukan ujian, saya akan mencapai gelar Drs. Teologi.

Saya mulai berpikir keras. Pada waktu itu memang sangat populer terutama di Asia yang dìsebut teologi kontekstual. Kendati ini hanya skripsi saya dapat memperkembangkannya kemudian sebagai disertasi apabila kesempatan utk itu ada. Saya tertarik dengan perkembangan teologi di India di mana proses kontekstualisasi dan inkulturasi sangat menonjol sejak abad-abad yang lalu. Mereka sdh terbiasa berteologi di tengah-tengah konteks Hinduisme di mana terjadi interaksi intens antara Injil dan Hinduisme. Mereka punya banyak tokoh. Salah satunya adalah Vengal Chakarai yang menulis Jesus The Avatara. Juga menulis buku, The Cross and Indian Thought. Ia teolog dari akhir abad ke-19/awal abad ke-20. Pandangannya mengenai Yesus dalam konteks Hinduisme di India dapat menjadi model bagi teologi inkarnasi bukan saja di India tetapi juga di Asia pada umumnya.  Begitu juga pandangannya tentang penderitaan. Prof. saya agak "surprised" dgn pilihan saya ini yang keluar dari pakem. Namun beliau menyetujuinya juga. Singkat ceritera skripsi itu jadi dalam tempo 3-4 bulan. Ujiannya berlangsung sederhana saja. Dihadiri oleh 3 Guru Besar sebagai penguji antara lain Prof. Mr. Dr. D.C. Mulder. Dia dulu pernah menjadi dosen saya di STT Jakarta dalam mata kuliah Pengantar Filsafat. Ujiannya lancar dgn hasil baik. " Wij zijn erg blij dat U de examen gepasserd heeft met genoegen", kata Profesor pembimbing saya. Ijazahnya langsung ditandatangani di situ dan diserahkan kepada saya. Tidak ada upacara wisuda dgn pakai toga seperti lazimnya di Indonesia. Sederhana saja.

Kawan-kawan dan kenalan sdh menunggu di luar membawa bunga sebagai tanda ucapan selamat. Antara lain yang hadir menanti di luar ruangan Prof. Dr. J. Verkuyl. Dia juga Guru Besar di VU dalam mata kuliah Misiologi. Di Indonesia dulu dia menulis banyak sekali buku termasuk seri Etika Kristen. Di Belanda juga dia tetap menulis banyak buku. Salah satunya yang terkenal adalah, Inleiding in de nieuwere Zendingswetenschap (Pengantar Ilmu PI yang lebih baru). Mengapa "lebih baru"? Karena pendahulunya dulu, Prof. J.H.Bavinck (beda dgn H. Bavinck yg dogmatikus) telah menulis Inleiding In de Zendingswetenschap. J.H.Bavinck juga pernah di Indonesia.

Biasanya wisuda macam itu dirayakan sendiri-sendiri saja. Teman-teman saya mantan misionaris di Sumba mengajak saya dan istri ke restoran Indonesia merayakan peristiwa penting ini.

Pembimbing saya menganjurkan agar saya melanjutkan saja studi utk menulis disertasi. Jadi tidak perlu dulu pulang ke Indonesia. Namun pihak Zending yang mensponsori saya berpendapat lain. Mereka berpendapat belum ada perjanjian sebelumnya utk terus menulis disertasi. Jadi pulang dulu untuk ngajar di Kupang. Nanti baru kembali lagi ke Belanda ssdh beberapa tahun. Pembimbing saya kelihatannya sedikit kecewa. Di hadapan Sekretaris Zending dia meminta agar tidak lebih dari 3 tahun sdh harus kembali ke Belanda menulis disertasi. Istilahnya dalam bahasa Belanda, Promotie Onderzoek. Dengan janji itu saya kembali ke Indonesia.

Namun Zending masih meminta saya bertahan lagi di Belanda selama 5-6 bulan utk bekerja di jemaat Belanda. Ini dibuat dalam rangka kerjasama dengan GKS dalam program yang disebut, "wederzjidze assistentie" (saling membantu). Dalam kerangka ini saya masih tinggal selama 5-6 bulan utk bekerja di jemaat Belanda.

Sesuai dgn kesepakatan antara Zending dan GKS saya masih tinggal  di Belanda selama 6 bulan. Saya bekerja di jemaat Zwolle: berkhotbah, memimpin katekisasi, perkunjungan rumah tangga dan lain-lainnya. Setelah 6 bulan saya dan keluarga kembali ke Kupang pada 1979. Saya kembali ngajar. Sementara itu AThKupang sudah menjadi Sekolah Tinggi Teologi. Saya diangkat lagi menjadi Rektor.

Surat dari pembimbing saya di Belanda tiba menanyakan kapan saya melanjutkan lagi sesuai dengan perjanjian. Di Indonesia sendiri a.l. Pak SAE Nababan juga mendesak. Malah ia mengambil prakarsa bertanya ke Zending. Namun karena saya rektor tdk mungkinlah saya melepaskannya begitu saja. Tdk mungkin sesuai dgn perjanjian utk tdk lebih dari 3 tahun. Saya mesti menyelesaikan tugas rektor saya. Maka baru pada 1984 saya dan keluarga kembali ke Belanda. Kali ini kami 4 orang karena putri saya lahir ketika kami di Kupang. Namun Zending memikul semua biaya perjalanan dan tinggal kami di Belanda. Kami tinggal di Hospitsium di Buitenveldert, dekat dengan VU.

Sebelum saya melanjutkan ceritera tentang kembalinya saya ke Belanda untuk studi doktor, ada baiknya saya ceriterakan sedikit episode kerja di jemaat Zwolle.

Seperti umumnya masyarakat yang terkena pengaruh proses sekularisasi, demikian juga halnya dengan jemaat ini. Perkunjungan rumah misalnya tidak mudah. Maksud saya karena kesibukan mereka yang luar biasa tidak mudah kita diizinkan masuk ke dalam apartemen mereka. Bisa dibayangkan, kita sudah setengah mati bersepeda di cuaca yang dingin, lalu belum ada kepastian apakah kita diizinkan masuk atau tidak. Kebanyakan anggota jemaat yang dikunjungi berdiam di apartemen-apartemen. Pintunya biasanya bisa dibuka dengan cara jarak jauh.

Pernah saya mengunjungi satu keluarga suami-istri yg tinggal sendiri. Saya menekan bel pintu. Terdengar jawaban: "Siapa?". Saya: "Ini Domine" (pendeta). Jawaban: "Nee, kami tidak butuh pendeta." Saya: "Tetapi ini bukan pendeta biasa. Ini pendeta dari Sumba." Treek! Pintu terbuka. Saya boleh masuk. Rupanya "Sumba" masih cukup ampuh. Ini karena jemaat-jemaat di provensi itu (Drenthe) dulu bertanggungjawab bagi pekabaran Injil di Sumba. Jadi nama itu masih cukup lekat dalam ingatan mereka. Setelah masuk, kita juga tidak berbicara tentang kitab suci atau berdoa. Tidak. Kita hanya bicara hal yang ringan-ringan saja, tentang Indonesia,Sumba, dll. Setelah itu pamit pulang. Tentu saja ini sebuah episode kecil dalam pengalaman perkunjungan. Tentu ada juga hal-hal yang biasa-biasa saja. Ada yang ramah dan ada yang sibuk sehingga terkesan kurang ramah.

Memimpin katekisasi utk anak-anak tanggung juga tidak mudah. Pada umumnya mereka tidak tertarik dengan topik-topik yang lazim dalam pelajaran katekisasi. Karena itu saya hanya berceritera tentang gereja-gereja dan masyarakat Indonesia. Kalau ini mereka tertarik. Tetapi jangan coba meminta seorang anak berdoa. Dia pasti menolak karena dianggapnya tidak logis meminta sesuatu kepada yang tidak bisa dilihat.

Pernah dalam sebuah pertemuan wijk yang biasanya sdh terjadwal, seseorang bertanya kepada saya: "Untuk apa anda ada di sini?" Setelah saya menjelaskan, responsnya: "Ah, mana mungkin. Bukankah kami dulu yang membawa Injil ke negeri anda?" Rupanya yang disebut bantuan timbal-balik (wederzjidze assistentie) tidak atau kurang tersosialisasi pada mereka.

Hal-hal yang saya ceriterakan ini tentu tidak mengurangi kegembiraan-kegembiraan yang saya alami selama melayani di jemaat tersebut.

Saya juga ingin berceritera mengenai keluarga saya selama studi 1976-1979 itu. Bagaimanapun mereka adalah tulang punggung yang menopang suksesnya studi tersebut. Kami ke Belanda dengan putra kami yang berusia 4 tahun. Sebagaimana lazimnya anak-anak seusia itu mereka sangat cepat menyesuaikan diri. Mula-mula mungkin canggung karena situasi baru, tetapi itu tidak berlangsung lama. Dengan segera ia menyesuaikan diri. Bahasa Belandanya cepat sekali karena di Kleuterschool (Taman Kanak-kanak) banyak kawan-kawannya. Mungkin karena ia "beda" dengan yang lainnya, maka banyak sekali yang ingin berkawan dengannya. Ada kebiasaan di Negeri Belanda sesudah jam sekolah usai mereka bisa meminta kawannya bermain di rumah mereka. Putra kami mengalami hal seperti itu hampir setiap hari. Ibunya atau kadang-kadang saya hrs menjemputnya kembali pulang ke rumah dengan sepeda. Memang alat transportasi dalam kota di negeri itu adalah sepeda. Jangan kuatir kesrempet karena sepeda mempunyai jalurnya sendiri. Pokoknya aman. Yang dikuatirkan hanyalah pencoleng sepeda entahkah yang sungguh-sungguh serius mencuri atau yang hanya iseng saja. Maka tidak heran sepeda tidak cukup punya satu kunci saja. Biasanya dua kunci.

Istri saya, melalui anak tadi mempunyai banyak kawan juga. Kendati tidak belajar bahasa Belanda secara formal, namun bisa mempergunakannya berkat pergaulan dengan ibu-ibu dari kawan putra saya.
Setiap Sabtu kami jalan-jalan di Amsterdamse bos seperti juga yang lazim dilakukan penduduk Amsterdam dan Amstelveen. Kalau saya punya tugas banyak yg harus diselesaikan, kadang-kadang tidak ikut jalan-jalan.

Selama di Amstelveen kami tinggal bersama seorang janda di Nolenslaan 10. Karena ia tinggal sendirian ia menyewakan rumahnya itu. Namun ia juga tetap tinggal bersama. Sebagaimana diketahui rumah-rumah orang Belanda itu terdiri atas 3 bahagian. Lantai dasar yang merupakan ruang keluarga yang digandeng dengan dapur. Ruang tengah, di atas ruang keluarga biasanya untuk tidur. Dan di atas sekali yang disebut zolder. Ini juga dipakai sebagai ruang tidur.
Kami menyewa ruang tengahnya, sedangkan dapurnya dipakai bersama. Ruang zolder pernah disewa oleh Pdt Brotosemedi (GKJ) ketika ia menulis disertasinya di sana. Kemudian juga oleh Prof. Hasan Askari, seorang Syiah dari India yang selama setahun menjadi Guru Besar tamu di VU.

Menjelang akhir studi saya, kami pindah ke Kampen menempati apartemen di Vermuydenstraat 262. Saya tidak perlu lagi setiap hari ke VU  sehingga memang bisa tinggal jauh dari Amsterdam. Biasanya perjalanan Kampen-Amsterdam sekitar 2 jam. Tetapi tidak usah kuatir karena angkutan umum di sana nyaman sekali. Kita bahkan bisa membaca buku selama perjalanan itu.

Demikianlah kami tinggal di Kampen hingga kami pulang kembali ke Kupang pada 1979. Jadi selama 3 tahun kami berdiam di Negeri Kincir Angin itu dan pulang dengan ijazah Drs. Theologia.

PERJUANGAN UNTUK MENJADI DOKTOR TEOLOGI (11)

Jadi pada tahun 1984 saya kembali lagi ke Belanda. Kali ini kami berempat karena putri kami yang lahir di Kupang tentu ikut-serta juga. Saya kurang ingat bulan berapa persisnya. Tetapi waktu itu masih dingin di Belanda. Jadi mungkin sekitar Februari juga. Kali ini kami tidak merasa terlalu berat dari segi bahasa. Juga pengenalan akan Negeri Belanda.

Sementara itu Pdt van Berge sdh digantikan oleh Pdt Wim van Halsema sebagai Sekretaris Seksi Oostelijk Indonesie. Dialah yang akan mengurus dan membantu kami selanjutnya nanti. Wim van Halsema ini hebat. Dia tidak pernah bekerja di Indonesia tetapi mampu berbahasa Indonesia dgn baik. Sebelumnya ia memang Ketua Sectie Oostelijk Indonesie ttp tetap bekerja di jemaat. Ketika terpilih menjadi Sekretaris Seksi ini ia harus mempelajari bahasa Indonesia di UKSW Salatiga. Berbekal ini ia kemudian langsung mempraktekkannya dan lancar.

Kami diberi tempat tinggal di Buitenveldert, sebenarnya masih bahagian dari Amstelveen namun dekat dengan VU. VU sendiri adalah bahagian dari Amsterdam. Tempat itu sangat strategis hanya 20-25 menit bersepeda ke Kampus. Tempat kami adalah perkampungan mahasiswa. Namun Hospitsium tempat kami tinggal didesign begitu rupa sehingga pas untuk mahasiswa luar negeri yang berkeluarga. Di dalamnya juga ada mall khusus utk mahasiswa.

Kami dibantu oleh Pdt Auke Hofman, pendeta yang memang ditugaskan gereja membantu mahasiswa luar negeri tanpa memandang agama dan kebangsaan. Putri kami yang waktu itu berusia sekitar 4 tahun di masukkan ke Kleuterschool, sedangkan putra kami yang berusia 12 tahun (jadi berbeda 8 tahun) yang sebenarnya sdh tamat SD di Indonesia dianjurkan lagi untuk mengulang di kelas 6 basis school. Ini berguna agar nanti tidak kesulitan memasuki Bruugklas semacam peralihan ke SMP. Untung dia masih faham dan lancar bahasa Belanda sehingga tidak terlalu sulit mengikutinya. Putri kami juga dengan cepat berbahasa Belanda karena pergaulan dgn anak-anak di Kleuterschool. Pada waktu kami datang Sumarthana sudah berada duluan. Ia sdh menyelesaikan Drsnya dan mulai menulis disertasi. Belakangan datang Pdt Sutarman tanpa keluarga dan lalu menjadi tetangga kami. Ia sdh Master di Amerika ttp harus mengikuti kursus penyesuaian utk memperoleh Drs. Baru dari situ bisa menulis disertasi. Ia kemudian menulis tentang Kiyai Sadrach. Selanjutnya datang pula Parakitri Simbolon yang mengambil doktor di bidang ilmu sosial VU. Ia juga menjadi tetangga kami.

Saya, krn sdh Drs bisa langsung menulis disertasi. Saya menemui Promotor, Prof. Jan Veenhof. Karena saya sdh menulis tentang Chakkarai waktu skripsi dulu, maka saya bermaksud meneruskan dan memperluasnya. Saya diminta membuat proposal. Proposal ini dibahas berkali-kali juga bersama gurubesar yang lain. Bahkan asisten-asisten mereka juga ikut-serta. Ada semacam skeptisisme apakah pantas disertasi itu nanti termasuk pada Theologia Sistimatika. Malah ada seorang asisten mengatakan di Asia tidak ada teologi. Yang ada, katanya renungan-renungan dan refleksi saja. Ini dikatakan kendati buku-buku Kitamori, Koyama sdh beredar luas waktu itu. Saya tetap ingin membuktikan bahwa bukan Eropa saja yang berteologi melainkan Asia juga. Saya diminta membuat laporan dari buku-buku yang ditulis oleh teolog Asia. Setelah diskusi-diskusi yang lama dan tdk jarang membuat frustrasi akhirnya diterima. Promotornya menjadi dua orang. Jadi bukan Promotor dan Co-promotor ttp dua-duanya promotor. Mereka adalah Prof. Dr. J. Veenhof dan Prof. Anton Wessels. Wessels pernah menjadi dosen di Beirut, Libanon. Ia menguasai Islam. Disertasinya mengenai biografi Muhammad menurut penulis-penulis mutakhir di dunia Arab. Dia juga adalah mantan dosennya pdt Tresna Purnama (pdt GKP) ketika memperdalam Islamologi di Beirut.

Lalu apakah fokus kajian disertasi ini? Asia begitu luas sedangkan persoalan yang dihadapi juga sangat kompleks. Pada waktu itu marak di Amerika Latin teologi-teologi pembebasan. Salah satu tokohnya adalah Gustavo Gutierrez. Ini adalah reaksi terhadap hegemoni sistem kapitalisme di mana gereja juga ikut-serta di dalamnya. Hegemoni yang menimbulkan kemiskinan dan kemelaratan di kalangan rakyat itu tidak mampu direspons oleh gereja. Malah gereja terkesan ikut-serta dalam berbagai "dosa" yang dilakukan kaum pemilik modal. Gereja sangat eliter dan jauh dari rakyat yang sekaligus juga adalah anggota jemaat. Ini menimbulkan kegelisahan di kalangan imam-imam muda. Mereka hidup solider dengan orang-orang miskin di tempat-tempat kumuh (slum). Ttp mereka tidak hanya hidup. Mereka juga melakukan refleksi teologis. Dengan menggunakan analisis sosial Karl Marx mereka membedah persoalan riil masyarakat di sana. Injil mestinya merupakan Kabar Baik bagi mereka. Orang miskin mestinya menjadi subyek dalam sejarah. Tidak hanya ditawan oleh perjalanan sejarah yang terus-menerus meletakkan kuk perhambaan di atas pundak mereka. Injil harus menjadi berita pembebasan. Bahkan praksis pembebasan. Lingkaran hermeneutis yang pernah dicetuskan oleh Bultmann mendapat realisasinya di sini. Ada perenungan menuju ke aksi dan kembali lagi ke perenungan. Begitu seterusnya. Tidak habis-habisnya. Maka terjadilah polarisasi di dalam gereja. Mereka yang sangat memihak pembebasan rakyat versus kaum elit gereja yang tidak jarang secara tanpa hati-hati juga dikenakan kepada kaum struktur gereja (hierarchi). Pada pihak lain, salah faham itu juga muncul terhadap kaum teolog pembebasan yang dianggap terpengaruh oleh Marxisme hanya karena mereka mempergunakan analisis sosial Marx sebagai pisau bedah. Ttp memang sampai sekarang belum ada yang mampu mengungguli analisis sosial Karl Marx ini.

Resonansi pemikiran ini juga terasa di Asia. Kemiskinan juga melanda Asia pada umumnya. Namun berbeda dgn Amerika Latin yang hampir 90 persen penduduknya beragama Kristen/Katolik, persentasi umat Kristen di Asia hanyalah 2 persen. Teologi pembebasan macam apakah yang mestinya berkembang atau diperkembangkan di Asia? Haruskah teologi pembebasan di Amerika Latin itu di copypaste di Asia? Atau Asia mempunyai tipenya sendiri?

Kawan-kawan saya di Indonesia mendorong saya untuk menulis tentang kemiskinan. Inilah persoalan konkrit yang dihadapi di Indonesia pada waktu itu. Gejala yang menonjol di era Orde Baru itu bukan saja kemiskinan ttp juga pemiskinan. Semua persoalan itu dapat difahami. Ttp bagaimanakah hal-hal itu dituangkan dalam sebuah kajian yang bersifat teologi sistimatika? Tentu harus dicari payungnya. Dan payungnya adalah "penderitaan" (suffering, lijden, Leiden). Kabar Baik mestinya membebaskan orang dari penderitaan. Hanya saja sdh sangat lama penderitaan dianggap sebagai kebajikan. Atau sebagai akibat dosa. Dosa dan penderitaan dikaitkan secara erat. Ketimbang menghadapi penderitaan secara konkrit, orang terkesan mengabstraksikannya. Penderitaan malah dilihat sebagai cara pendamaian guna pengampunan dosa. Kebetulan di Belanda pada tahun-tahun itu ramai sekali orang berbicara tentang disertasi H. Wiersinga yang membahas pendamaian sebagai persoalan teologis (Verzoening als theologische probleem). Dia menthesiskan bahwa penderitaan Yesus yang selama ini dianggap membawa pendamaian dan pengampunan dosa tidak dengan sendirinya berlaku bagi kita. Heboh kan?

Ya, heboh tetapi bagaimana dengan fokus kajian saya tentang penderitaan yang secara riil menampakkan diri dalam kemiskinan dan pemiskinan? Dalam upaya berpikir intens menghadapi hutan persoalan teologis ini saya diberi pencerahan oleh Aloysius Pieris. Dia adalah seorang imam Katolik dari Sri Lanka, sangat ahli dalam teologi Thomas Aquinos ttp sekaligus juga sangat memahami Budhisme. Bahkan gelar doktornya diperoleh dari Universitas Budha di Sri Lanka. Ia tidak menulis buku tebal-tebal. Hanya artikel-artikel di jurnal-jurnal. Kendati demikian tidak mudah membacanya. Kita harus membacanya berulang-ulang agar bisa menangkap makna terdalam dari formulasinya yang ditulis sangat kompak dalam bahasa Inggris yang apik. Saya membaca salah satu artikelnya berjudul, "Towards an Asian Theology of Liberation: Some Religio-Cultural Guidelines" yang dimuat dalam Virginia Fabella, Asia Struggle for Full Humanity. Dia menegaskan bahwa kalau kita mau berbicara tentang Asia, sesungguhnya kita menghadapi dua kenyataan besar di sana: "Overwhelming Poverty" (Kemiskinan yang meliputi semuanya) dan "Multifaceted Religiosity" (Keberagamaan Yang Multi Wajah). Kedua kenyataan ini saling pengaruh-mempengaruhi. Tidak ada teologi yang tulen (genuine) di Asia kalau kita mengabaikan dua kenyataan besar ini, kata beliau. Gereja-gereja di Asia harus rela tersalib di salib kemiskinan Asia dan dibaptis di dalam Yordan keberagamaan Asia, kata Pieris. Adalah tugas teologi di Asia utk menemukan soteriologi-soteriologi yang terkandung dalam agama-agama Asia, kata Pieris lagi.

Tiba-tiba seperti ada sinar terang dalam otak saya. Seakan-akan jalan di depan dibukakan ke arah mana nanti kajian disertasi saya menuju. 

Setelah framenya jelas yaitu "overwhelming poverty" dan "multifaceted religiosity" saya mulai menggarapnya. Saya sempat bertanya kepada promotor apakah dibutuhkan penelitian lapangan misalnya dgn pergi ke India? Dijawab, tidak perlu. Disertasi ini nanti lebih mengandalkan penelitian perpustakaan dan karena itu memang lebih bersifat kualitatif. Kalaupun dibutuhkan data misalnya bisa saja diminta dari lembaga-lembaga yang berkepentingan. Maka kesibukan saya adalah mengunjungi perpustakaan-perpustakaan di Amsterdam, Leiden, Oogstgeest, dan Utrecht. Waktu itu pemakaian komputer belum terlalu lazim. Jadi saya mengandalkan mesin ketik manual gaya lama. Tentu saja ini ada kesulitannya tersendiri. Kalau memperbaiki naskah karena dikoreksi maka harus siap mengetik seluruh naskah itu. Perbaikan itu bisa beberapa kali. Apalagi mencari di Google waktu itu tidak ada. HP blm ada sehingga mengandalkan telpon umum. Maka kita harus siap dengan koin-koin.

Karena Asia terlalu luas maka saya membatasi diri hanya pada 4 negara yaitu India, Jepang, Korea, dan Indonesia. Tetapi sebelum masuk ke negara-negara itu ada sebuah orientasi umum terhadap Asia sehingga orang mendapat kesan seperti apakah Asia itu dgn persoalan-persoalan yang dihadapi.

India dipilih sebab lautan kemiskinan yang sangat nyata pada waktu itu. Hinduisme memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari yang ikut menentukan sikap mereka terhadap kehidupan dan nasib. Kemiskinan sulit diperangi karena kepercayaan terhadap kasta yang dianggap sdh ditentukan dari "sono". Hal ini dikaitkan dgn kepercayaan terhadap kelahiran kembali yang sangat tergantung pada kehidupan masa kini. Dalam kelahiran kembali itu bisa seseorang naik tingkat atau turun tingkat. Jadi kalau seseorang miskin ditolong sekarang bisa saja itu merupakan intervensi yang tdk perlu. Bisa saja kemiskinan yg dihadapi sekarang merupakan hukuman dari kehidupan masa lampau. Jadi kalau dibiarkan sekarang, ia bisa mencapai kehidupan naik tingkat di kelahiran kembali nanti.

Para pemikir dan teolog India seperti Chakarai, M.M. Thomas, S.J. Samartha hidup dan bergumul di tengah-tengah keyakinan macam ini. Mereka sdh menuangkan pergumulan mereka itu dalam berbagai literatur. Maka disertasi ini juga mengarahkan perhatian terhadap pemikiran-pemikiran mereka.

Jepang dipilih bukan karena dia miskin. Justru negeri ini sangat kaya. Namun mereka telah menyebabkan penderitaan terhadap negara-negara tetangganya selama PD II. Peranan agama Shinto yang melihat Kaisar sebagai keturunan matahari (Amaterasu) ikut memengaruhi pandangan mereka terhadap tetangga-tetangganya. Invasi ke mana-mana. Sikap agresi ini hanya dapat dihentikan ketika bom atom diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Akibatnya bukan saja mereka takluk, tetapi juga Sang Dewa ditundukkan. Ini sangat menyakitkan. Ini penderitaan yang tidak terpikulkan. Dirasakan bukan saja oleh Kaisar melainkan juga oleh seluruh rakyat Jepang. Literatur-literatur mereka penuh dengan ini.

Kazoh Kitamori, teolog Jepang ikut merasakan kepedihan itu. Ia menulis buku Theology of  the Pain of God, dimana ia melukiskan Allah sebagai yang sakit (pain), pilu hatinya karena Ia harus menaklukkan dirinya sendiri. Allah mestinya menghukum Efraim karena dosa mereka namun Ia mengurungkannya karena kasih. Ini menimbulkan kepedihan. Kepedihan itu pula yang dirasakan Jepang ketika PD II itu berakhir. Kata kuncinya adalah "tsurasa" yg menurut Kitamori hanya mampu dirasakan oleh rakyat Jepang. Kepiluan seoranģ bapa ketika melihat anak-anaknya menderita. Menarik sekali sebab Kitamori sama sekali tidak menyinggung penderitaan bangsa-bangsa Asia sebagai akibat ulah Jepang itu.

Korea dipilih sebab inilah semenjung yang terbelah. Ada Korea Selatan, ada Korea Utara yang sampai sekarang masih saling bermusuhan. Ini dilihat juga sebagai kepedihan. Mereka menyebutnya "han" yaitu rasa pilu yang terdalam yg sulit diungkapkan dengan kata-kata. Selain itu masyarakat Korea sendiri terbelah di antara yang berpunya dan tidak berpunya. Industrialisasi maju tetapi dampaknya juga menyedihkan bagi kaum yang disebut "Minjung". Shamanisme di sini memainkan peranan penting di samping Budhisme yang sdh dikoreakan. Kekristenanpun cukup besar pengaruhnya karena jumlahnya mencapai kurang-lebih 30 persen di antara penduduk. Maka berkembanglah di negeri ini Teologi Minjung dipelopori oleh Kim Yong Bock.

Indonesia dipilih karena berbagai upaya pembangunan dilakukan oleh Orde Baru. Islam juga memainkan peranan besar di dalam membentuk cara berpikir dan cara tindak masyarakat. Benarkah upaya-upaya pembangunan itu sungguh-sungguh membebaskan masyarakat dari kemiskinan atau malah makin memperlihatkan proses pemiskinan? Dapatkah Islam memberi sumbangan bagi pembebasan manusia dari penderitaannya? Para teolog Indonesia telah bergumul lama mengenai hal ini. Teologi apa yang dihasilkan? Teologi pembebasan? Teologi pembangunan?

Semua pembahasan ini dirangkum lagi dalam sebuah fasal tersendiri di mana saya memberikan lertimbangan-pertimbangan teologi sistimatika. Di akhir dari seluruh penbahasan ini saya menegaskan Yesus sebagai KURBAN. Saya artikan kurban Yesus dalam dua pengertian: Offer, sebagaimana dipersembahkan dalam ritus. Ini mengacu kepada peranan-Nya yang memperdamaikan Allah dgn manusia. Pada saat yang sama Ia juga adalah victim, yaitu yang "menyimbolkan" orang-orang kecil dan tak berdaya sebagai kurban penindasan dari mereka yang kuat dan berkuasa.

Demikianlah pergumulan utk penulisan berakhir sementara. Ketika saya sedang menggarap fasal 1 yang saya tulis dalam bahasa Belanda, tiba-tiba para promotor saya memberi pertimbangan lain. Mereka minta saya menulisnya dalam bahasa Inggris. Pertimbangannya disertasi ini tentang Asia. Kalau dalam bhs Belanda medan bacanya terbatas. Kalau bahasa Inggris lebih luas. Sangat masuk akal. Tetapi tidak mudah juga bagi saya. Saya bisa membaca bahasa Inggris, ttp menulis, itu soal lain lagi. Saya hanya pernah menulis surat dalam bahasa Inggris. Artikel apalagi buku belum pernah. Maka saya ke British Council di Amsterdam guna mencek ketrampilan saya. Hasilnya ya lumayanlah. Ttp tdk terlalu meyakinkan saya. Karena itu saya membuat "perjanjian" dgn kedua promotor saya agar mereka tidak terlalu memperhatikan akurasi bhs Inggris saya. Memadailah apabila mereka bisa memahaminya. OK? Ya, ok. Dua hari setelah saya memposkan bhgn tulisan saya yg dlm bhs Inggris itu saya cek mereka via telpon. Apakah Prof menangkap maksud saya? Dijawab, cukup jelas. Jadi bgmn? Terus dgn prosedur ini? Terus saja, kata mereka. Maka plonglah saya. Nanti dalam final draftnya disertasi ini diperiksa oleh native speaker, sdr Meydendorf dari Amerika yang juga berstudi di VU. Kebetulan istrinya ahli dalam menentukan footnotes. Jadi sekalian suami-istri menggarap final draft disertasi saya. Tentu tidak gratis. 

Setelah naskah "diterima" oleh para promotor saya harus menentukan judul dari disertasi itu. Kata "diterima" saya taruh dalam tanda kutip sebab tidak ada yang sungguh-sungguh mutlak memuaskan. Para promotor saya tetap menyampaikan kritik bahkan ketika naskah tersebut sudah dibawa ke Percetakan. Kalau ada literatur baru misalnya mereka segera memberitau saya supaya itu diperhatikan dalam disertasi. Lalu apa judul? Saya memahami bahwa penderitaan yang dialami masyarakat adalah juga salib. Gereja memikul salib itu. Tetapi tidak jarang gereja juga menciptakan salib-salib baru di kalangan manusia ketika orang Eropa yang notabene beragama Kristen menduduki Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Ini tragis dan ironis sekaligus. Maka saya berpendapat gereja macam ini belum keluar dari mentalitas Theologia Gloriae seperti disinyalir oleh Martin Luther di abad ke-16. Sbgmn kita mahfum Luther membedakan Theologia Gloriae dari Theologia Crucis. Yang disebut pertama adalah glorifikasi berlebih-lebihan terhadap kemuliaan gereja bahkan tdk segan-segan menggantikan Kemuliaan Kristus. Theologia Crucis adalah teologi yang menunjuk kpd kehinaan Kristus sebagaimana terlihat dalam peristiwa penyaliban-Nya. Menurut iman Kristen justru dengan itu terjadilah pendamaian dgn Allah. Tetapi pendamaian dgn Allah ternyata tidak menghilangkan penderitaan yang dialami manusia bahkan yang disebabkan oleh gereja. Maka tidak keliru kalau penderitaan di antara manusia itu difahami pula sebagai salib. Itulah alasannya mengapa saya memilih judul, "Theologia Crucis in Asia". Crucis merujuk kepada salib Kristus tetapi juga thdp salib-salib kecil penderitaan manusia. SALIB Kristus mestinya memulihkan salib-salib kecil itu shg tidak ada lagi penderitaan apa lagi yang disebabkan oleh sesama manusia. Di sinilah gereja dipanggil utk melakukan itu. "Gereja harus siap utk disalibkan di Golgota penderitaan Asia dan bersedia dibaptiskan di dalam Yordan keberagamaan Asia," kata Pieris. Hanya dgn demikianlah teologi memperoleh hak hidup di Asia.

Setelah judul ini mantap saya harus bertemu dgn fungsionaris dari Biro Pedel. Dia harus memastikan tanggal dan jam promosi. Sebelumnya Promotor saya Prof. Wessels sdh meminta saya memakai Aula besar. Sebelumnya saya memilih Aula kecil saja karena saya pikir jangan terlalu ramai-ramailah. Namun Promotor saya mengatakan, jangan terlalu rendah hatilah. Orang-orang Indonesia di Belanda dan Belgia akan datang kendati tidak diundang apabila mereka membaca di koran ada orang Indonesia yang berpromosi. Pada waktu itu orang Indonesia yang berpromosi masih langka.

Pedel setuju saya memakai Aula besar. Tanggalnya ditetapkan, 21 September 1987 jam 15.30. Ini harus pasti sebab harus dicetak di buku disertasi itu sendiri. Selain itu Pedel juga harus memastikan tataletak, titik dan koma agar maksud buku itu tidak salah. Jadi biasanya tertulis di halaman dalam: ACADEMISCH PROEFSCHRIFT TER VERKRIJGING VAN DE GRAAD VAN DOCTOR AAN DE VRIJE UNIVERSITEIT TE AMSTERDAM, OP GEZAG VAN DE RECTOR MAGNIFICUS DR. C. DATEMA, HOOGLERAAR IN DE FACULTEIT DER LETTEREN, IN HET OPENBAAR TE VERDEDIGEN TEN OVERSTAAN VAN DE PROMOTIECOMMISSIE VAN DE FACULTEIT DER GODGELEERDHEID OP MAANDAG 21 SEPTEMBER 1987 TE 15.30 UUR IN HET HOOFDGEBOUW DER UNIVERSITEIT, DE BOELELAAN 1105. (Karya akademik utk mendapat gelar doktor dari Vrije Universiteit di Amsterdam, atas wibawa Rektor Magnificus Dr. C. Datema, Guru Besar di Fakultas Sastra, dipertahankan di hadapan umum di depan Panitia Promosi dari Fakultas Teologi pada hari Senin 21 September 1987 jam 15.30 di Gedung Utama Universitas, De Boelelaan 1105)..

Setelah ini beres lalu dibawa ke Percetakan Rodopi di Amsterdam. Pedel meminta 250 eks karena mereka akan mengirimkannya ke perpustakaan-perpustakaan seluruh dunia. Promotor saya minta spy dibuat 2 jenis edisi: edisi proefschrift dan edisi dagang (handels editie).

Sebelum naskah dibawa ke Percetakan masih ada lagi satu hal yang dilakukan yaitu merumuskan dalil-dalil (stellingen). Kebiasaan di Belanda, selain disertasi juga dalil-dalil yang nantinya dipertahankan dalam upacara promosi. Saya merumuskan 18 dalil. Sebagian berasal dari disertasi, sebagian lainnya dari luar bidang studi spt biblika, sejarah gereja, dll bahkan dari bidang non-teologi. Jadi dalam dalil-dalil saya itu ada yang mengenai nama Allah, kecerdikan spt ular, azan di Nederland, musik gereja, penerimaan Pancasila di Tata Gereja. Dalam dalil ke-17 saya mendalilkan tentang kemandirian finansial Gereja Kristen Sumba. Bunyinya sbb.: "Het financieele zelfstandigheid van de Christelijke Kerk op Sumba hangt niet alleen af van het besef van haar leden, dat zij de taak hebben met hun geven het kerkelijk leven te onderhouden maar ook van de economische situatie van de sumbanese bevolking in het algemeen." (Kemandirian finansial dari Gereja Kristen Sumba tidak hanya tergantung pada kesadaran anggota-anggotanya bahwa mereka mempunyai kewajiban memberika persembahan bagi  menghidupi kehidupan gerejawi ttp juga pada situasi ekonomi rakyat Sumba pada umumnya).

Pada waktu saya sedang mempersiapkan disertasi ini dan menjelang bbrp bulan sebelum promosi bapak saya, Pdt. S.M.Yewangoe wafat di Sumba. Tentu kami sangat sedih. Beberapa bulan sebelumnya ia mengirim surat kepada kami menyatakan kerinduan untuk bertemu. Namun tdk mudah juga melakukan hal itu. Beliau sendiri mengatakan bahwa kalau memang tidak mungkin bertemu semuanya akan diserahkan kepada Tuhan. Ketika mendengar kabar itu para promotor saya mengunjungi kami menyampaikan belasungkawa. Juga membaca Alkitab dan berdoa bersama. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sekretaris Sectie Oostelijk Indonesie Zending v.d. Gereformeerde Kerken in Nederland. Saya merenungkan bahwa bapak saya sebagai pendeta sederhana di pedesaan Sumba telah ikut memikul salib itu dengan passie dan caranya sendiri. Karena itu sangat layak, menurut keyakinan saya karya disertasi ini saya persembahkan kepada almarhum bapak saya.

Akhirnya tanggal 21 September 1987 tiba. Tanggal ketika saya mempertahankan disertasi saya di hadapan Senat Guru Besar dan kalau lulus akan dipromosikan sebagai Doktor. Sebelumnya saya harus menyewa pakaian di Amsterdam utk kesempatan itu. Rupanya VU sdh merupakan langganan tetap dari Penyewa tersebut. Pakaian itu berwarna hitam, atasannya berupa jas panjang mirip yang dipakai dirigent musik. Saya lupa namanya. Sebenarnya kalau saya bawa kain Sumba waktu itu bisa juga dipakai, ttp tdk membawa. Jadi pakailah pakaian konvensional Eropa.


Selain itu saya juga harus menentukan Paranimf yaitu yang mendampingi selama kita mempertahankan disertasi dan ketika dipromosikan. Biasanya paranimf itu dua orang. Mereka juga berpakaian sama dengan kita. Mereka tdk sekadar mendampingi ttp juga menolong membuka halaman buku supaya cepat apabila diperlukan. Paranimf saya adalah Dr. Hommo Reenders dan Drs. A.Th. Kramer, keduanya mantan rekan dulu di AThKupang. Reenders berlatar belakang Gereja Gereformeerd, sedangkan Kramer dari Nederlands Hervormde Kerk. Waktu itu kedua gereja ini belum bersatu. Masih dalam proses yang disebut "Samen op Weg Kerk". Sekarang kedua gereja itu bersama-sama dgn Gereja Lutheran sdh bersatu menjadi Protestansche Kerk in Nederland. Kramer menolong saya ketika saya lupa bhs Belandanya "ragu" dlm respons saya kpd seorang oponen. Ia membisikkan "twijfel". Dgn demikian diskusi bisa berjalan terus.


Sejam sebelum acara dimulai, saya ditelpon oleh Promotor saya, Prof. Wessels bahwa oponen saya yang pertama nanti adalah Prof. S.J. Samartha. Dia adalah teolog India namun sdh malang-melintang di gerakan oikoumene sedunia. Makanya ia sering di Markas WCC di Jenewa. Kebetulan saya membahas dia dlm disertasi saya itu. Tokh saya sedikit gugup juga. Mental saya sdh dipersiapkan utk berbahasa Belanda nanti. Samartha tdk tahu Bhs Belanda. Berarti berbahasa Inggris. Mampukah saya nanti memakai kedua bahasa itu? Saya juga siap mental jangan-jangan dia bertanya tentang pendapat saya mengenai dia.


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Para Guru Besar sdh siap dgn toga hitam mereka. Ttp saya melihat ada 4 orang yang nanti tampil sebagai oponen saya. Prof. Samartha, Prof. Jongeneel, Prof. Mulder, dan seorang profesor dari Amerika bidang PB yg waktu itu sdg menjadi dosen tamu di VU. Maaf saya lupa namanya.

Aula memang tdk penuh ttp kalau terisi 3/4 nya itu sdh luar biasa. Yang diramalkan Prof. Wessels bahwa nanti banyak orang Indonesia hadir dari Belanda dan Belgia kendati tdk diundang resmi benar. Apalagi saya juga membantu di PERKI. Sehari sebelumnya surat kabar sdh memuat bahwa nanti ada org Indonesia berpromosi di VU. Duta Besar RI Sutopo Yuwono juga menyempatkan diri hadir. Adnan Buyung Nasution yang kala itu sdg menulis disertasi di Utrecht juga hadir. Kawan-kawan dari Indonesia yg kebetulan berkunjung ke Belanda: Eka Darmaputera, Chris Hartono, dll juga hadir. Saya gembira tetapi juga cemas. Bgmn kalau macet nanti dlm menjelaskan? Apalagi ini bhs asing. Tentu malu saya di hadapan begitu banyak teman sebangsa.


Namun tdk berlama-lama dgn kecemasan itu. Prosesi Guru Besar yg didahului Pedel memasuki ruangan. Saya didampingi paranimfen menyusul dari belakang. Semua hadirin diminta berdiri. Guru Besar duduk di tempat mereka masing-masing. Disertasi di depan mereka masing-masing. Saya berdiri di mimbar didampingi paranimfen. Rektor mengucapkan Votum: Pertemuan kita jadi dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Saya dipersilahkan mengucapkan formula yang sdh tetap: "Op gezag van de Rector Magnificus, met machtiging van het College van Decanen, volgens besluit van de Promotie Commissie van de Faculteit der Godgeleerdheid, sta ik hier gered mijn proefschrift dat tot titel heeft Theologia Crucis in Asia met de daarbij toegevoegde stellingen te verdedigen ten einde van de graad van Doctor te verwerven" (Atas wibawa Rektor Magnificus, dan dengan kuasa Dewan Dekan, dan seturut keputusan Panitia Promosi Fakultas Teologi, skrg saya siap di sini utk mempertahankan disertasi saya berjudul, Theologia Crucis in Asia berikut dalil-dalilnya utk pada akhirnya memperoleh gelar Doktor).


Ssdh itu saya diberi waktu 10-15 menit utk menjelaskan isi disertasi saya. Saya melakukannya dalam bhs Belanda. Berikut dipersilahkan oponen pertama, Prof. Samartha. Dia berbicara dlm bhs Inggris. Ternyata dia tdk menyinggung sama sekali tulisannya sendiri. Dia menghargai disertasi saya karena "timely" ketika dunia kita dirundung oleh penderitaan di mana-mana. Dia akhirnya meminta pendapat saya ttg kemiskinan struktural yg disebabkan juga oleh kebijakan negara yg keliru. Saya meresponsnya dalam bahasa Inggris. Oponen kedua Prof. Jongeneel. Dia Guru Besar di Utrecht. Dulu dosen di Makassar dan Tomohon. Dia bicara dlm bhs Belanda. Dia bertanya mengapa saya tdk menyinggung sama sekali penderitaan para martir yang cukup banyak di Asia. Saya merespons dlm bhs Belanda barangkali itu membutuhkan disertasi yang lain.

Selanjutnya oponen ke-3 Prof. Mulder. Ia berbicara bhs Belanda. Ia menghargai usaha saya krn menulis dalam bhs Inggris dan mempertahankan disertasi dlm bhs Belanda. Kedua-duanya adalah bahasa asing bagi saudara, katanya. Karena itu utk menghargai saudara dan bangsa sdr saya akan mengajukan pertanyaan dlm bhs Indonesia. Beliau lalu berbicara tentang keadilan, "adalat" (jamak dari adil dlm bhs Arab). Ia bertanya apakah saya sdh membaca keputusan pertemuan gereja-gereja di Indonesia dan Belanda di Bali yg baru tiba bbrp hari ini. Selanjutnya ia menghargai pandangan saya tentang kurban yg menurut dia adalah "temuan" saya. Semua ini lalu diikhtisarkannya dlm bhs Belanda. Sebelum saya meresponsnya saya bertanya kpd Rektor bolehkah saya berbahasa Indonesia? Ini perlu ditanyakan krn bhs Indonesia bukan bahasa resmi Universitas. Rektor mengizinkan ttp lalu meminta utk segera diterjemahkan ke Bhs Belanda atau Inggris. Saya lakukan itu.

Oponen keempat prof. Tamu dari Amerika. Ia berbicara dlm bhs Inggris. Ia berbicara tentang satu dalil saya, "cerdik seperti ular, tulus seperti merpati". Saya heran katanya, mengapa anda berminat sekali terhadap ular. Apakah anda mau menjadi ahli ular? Lalu dia terus bacanda. Saya meresponsnya dlm bhs Belanda. Saya bilang, saya juga heran mengapa anda bicara bhs Inggris pada hal menguasai bhs Belanda. O ya, tentang ular itu, saya sdh lihat ternyata ular-ular di Indonesia lebih pintar dari ular-ular di Belanda. Para hadirin tertawa terbahak-bahak. Saya melirik Pedel. Dia sdh mengelus-elus tongkatnya. Akhirnya ia berdiri dan berseru: "HORA EST". Waktu sdh habis. Diskusi selesai. Saya mengucapkan formula penutup. Maaf saya lupa bhs Belandanya. Ttp isinya, skrg waktu utk mempertahankan disertasi saya sdh selesai. Saya menantikan dgn berdebar-debar apa yang diputuskan Dewan Guru Besar kpd saya. Lalu prosesi keluar. Kali ini saya dan paranimfen di depan. Guru Besar menyusul dari belakang.


Guru-guru Besar memasuki ruang rapat mereka. Kami menunggu di luar. Mrk akan memutuskan saya lulus atau tidak. Kira-kira 10 menit kemudian kami dipanggil masuk. Saya dinyatakan lulus. Lalu kepada saya disodorkan sebuah buku tebal yang sdh kumal. Ternyata buku itu berisi tanda tangan dari semua yang mendapat doktor di situ sejak dulu. Saya juga diminta menandatangani buku itu. Tandatangan saja. Tdk ada apa-apa berupa komentar misalnya.

Selanjutnya kembali prosesi masuk aula. Kali ini utk promosi. Saya dipromosikan menjadi Doktor dengan segala hak dan kewajiban yang terkandung di dalamnya. Bul/ ijazah diserahkan oleh Prof. Veenhof, promotor saya. ljazahnya ditulis dalam bahasa Latin. Selama promosi itu semua Guru Besar berdiri sebagai
penghormatan thdp doktor baru. Berikut Prof. Wessels, promotor yg lain mengucapkan Laudate, yaitu semacam uraian singkat thdp isi disertasi saya dan sekali gus menyampaikan penghargaan. Setelah semua ini kembali prosesi keluar. Memasuki resepsi, wine, keju, kue dll. Lalu malamnya resepsi yg lebih khusus lagi dgn PERKI dan semua sahabat, para promotor, para guru besar. Tentu saja makanan
Indonesia.

Demikianlah perjuangan saya utk memperoleh gelar Doktor. Kami kembali ke Indonesia dengan riang dan lega. Plong! Sayang sekali, baru dua hari kami di Kupang kami mendengar kabar bahwa mama kami wafat. Kami sekeluarga bergegas ke Sumba. Kami sedih. Kami mendengar bahwa mama masih sempat
mendengar saya berhasil. Dia senang sekali. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Kami pasrah. Kami tidak akan pernah melupakan kedua orangtua kami yang dalam cara sederhana ikut memikul salib Kristus. Demikianlah kawan-kawan. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati!

Sumber: Fanpage Facebook Andreas Anangguru Yewangoe

Post a Comment for "Kisah Hidup Andreas Anangguru Yewangoe "Perjuangan Untuk Menjadi Doktor Teologi""