Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Relasionalitas Aku "Religius" dan Liyan

Penulis: Melky Nino

Aku religius merupakan Aku yang mau berelasi dengan. Hal demikian berarti bahwa Aku religius bukanlah Aku yang mau berdiri sendiri, tetapi Aku yang selalu mencari untuk berelasi dengan liyan. Selain Aku religius, ada juga liyan. Liyan merupakan mereka yang mau berelasi. Mengapa? Karena mereka adalah manusia-manusia yang memiliki keinginan untuk berelasi dengan sesamanya.

Aku religius juga merupakan suatu keindahan. Karena Aku religius selalu ingin membangun suatu relasionalitas yang indah dengan liyan. Keindahan relasionalitas itu terdapat dalam keseluruhan relasional tersebut. Keindahan itu terjadi ketika Aku religius berusaha untuk membanggun relasi yang indah secara keseluruhan dengan liyan.

Liyan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Aku religius yang selalu berusaha untuk membangun suatu relasional yang indah. Hal demikian berarti bahwa dalam liyan juga membutuhkan Aku. Karena liyan juga memiliki sikap relasional. Liyan tidak bisa berdiri sendiri sehingga liyan selalu membutuhkan Aku religius untuk berelasi sebab relasional itu terjadi apabila ada Aku religius dan liyan.

Selain itu, dalam relasionalitas Aku religius dan liyan selalu berusaha untuk membangun suatu relasional yang indah. Sebab keindahan itu merupakan suatu kapasitas akal budi. Sebagai kapasitas akal budi tentu keindahan tidak hanya dilihat secara sebagian saja, akan tetapi keindahan itu adalah keseluruhannya. Keseluruhan dari keindahan itu tejadi ketika Aku religius membangun suatu relasional dengan liyan secara menyeluruh dan melihat kehadiran liyan sebagia bagian yang membahagiakan dan mempersatukan. 

Keindahan Aku religius dan liyan itu terletak dalam relasional yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya. Dalam relasionalitas tersebut Aku religius berelasi dengan liyan dan melihat liyan sebagai bagian dari Aku sendiri yang memberikan motifasi, keuntungan, dan dukungan untuk membangun relasionalitas yang indah dan harmonis. Keindahan Aku religius dan liyan juga merupakan relasi subjek dan objek. 

Aku religius dan liyan merupakan suatu relasi yang saling membutuhkan. Karena di dalam relasionalitas tersebut Aku religius tidak bisa berelasi dengan dirinya sendiri tetapi selalu berelasi dengan liyan.  Liyan di lihat sebagai bagian dari Aku religius. Aku religius menjadi Aku ketika berelasi dengan liyan. Halnya demikian karena Aku religius ialah Aku yang selalu berelasi dengan. Aku religius dan liyan juga merupakan relasi yang indah. Mengapa? Karena dalam relasionalitas tersebut Aku religius menampilkan diri secara penuh untuk berelasi dengan liyan demikianpun halnya dengan liyan. Relasi demikianlah yang menunjukkan keindahan tersebut. Indah berarti bahwa relasi tersebut dibangun secara keseluruhan dan bukan relasi yang sebagian atau separu-separu.

Relasi Aku religius dan liyan adalah indah. Indah merupakan suatu realitas yang di dalamnya terdapat suatu aspek doa, harapan, dan kegembiraan. Karena di dalam relasionalitas tersebut Aku religius dan liyan berusaha untuk menbangun relasi yang harmonis dan relasi yang membawa pengharapan. Keindahan itu berada dalam kehadiran manusia itu sendiri (Riyanto, 2013:62). Hal demikian berarti bahwa keindahan itu juga berada dalam kehadiran Aku religius dan kehadiran liyan. Keberadaan keindahan Aku religius dan liyan menjadi lebih indah ketika Aku religius menghadirkan diri secara penuh untuk mebangun relasi yang indah dengan liyan demikian pun dengan liyan yang menghadirkan diri secara penuh untuk berelasi dengan Aku religius.

Relasionalitas Aku religius dan liyan merupakan relasi yang membahagiakan. Karena dalam relasi tersebut Aku religius menghormati dan menghargai liyan sebagai bagian dari dirinya. Sebagai bagian dari dirinya berarti bahwa Aku religius melihat liyan sebagai bagian yang penting dan sebagai bagian yang harus dijunjung tinggi serta dilindungi sebab mereka juga memiliki martabat yang luhur.

Kebahagian itu tidak ada kecuali berkaitan dengan liyan atau orang  lain. Bahagia itu bukan milikku, bukan pula sejauh yang bisa Aku nikmati atau melegakanku. Bahagia itu milik liyan dan aku yang berelasi dengannya larut dalam kebahagiaan dengannya (Riyanto, 2013:58). Saya sangat setuju dengan pendapat di atas sebab kebahagian itu mendapatkan nilai yang tinggi ketika Aku religius berelasi dengan liyan atau orang lain. Di dalam relasi tersebut kebahagiaan itu bukan lagi menjadi bagianku sendiri, tetapi kebahagiaan itu sudah menjadi bagianku dan bagian dari liyan. Selain itu kebahagiaan juga bukan lagi menjadi bagianku yang kunikamati sendiri tetapi bagian dari liyan yang juga menikmatinya.

Di dalam relasionalitas Aku religius dan liyan juga terjadi relasi yang membahagiakan. Mengapa? Karena kebahagiaan dalam relasi  juga menjadi milik liyan sehingga Aku religius yang berelasi dengan liyan turut larut dalam relasi yang membahagiakan itu. Aku religius yang larut dalam kebahagian bersama liyan menandakan suatu relasi yang dilandaskan pada suatu nilai keharmonisan. Perlandasan nilai keharmonisan dalam relasionalitas Aku religius dan liyan merupakan suatu bentuk relasi yang sangat mendalam sehingga Aku religius tidak melihat liyan sebagai musuh yang harus dibombardir dan disiksa serta dikucilkan, tetapi Aku religius melihat liyan sebagai bagian dari dirinya yang harus dihormati, dilindungi, disapa, dan junjung tinggi martabatnya.

Eksklusivisme dalam bentuk apapun, yang berdampak pada pengusiran atau pengucilan liyan selalu memproduksi kondisi tidak manusiawi. Liyan adalah diri sendiri dalam incorporasi diri sesama kita. Liyan bukan orang lain yang layak diusir atau dikucilkan (Riyanto, 2013:59). Pendapat di atas sungguh sangat baik menurut saya karena liyan itu bukanlah orang-orang yang harus dikucilkan atau diusir tetapi liyan adalah orang-orang yang harus dilindungi dan dijaga. Liyan adalah mereka yang memiliki martabat yang luhur seperti Aku religius sehingga Aku tidak boleh melihat liyan sebagai orang lain yang tertindas, teraniaya, tetapi Aku religius harus melihat liyan sebagai bagian dari dirinya yang akan mengukuhkan diri Aku religius sendiri.

Selain itu dalam relasionalitas Aku religius dan liyan, Aku religius haruslah berusaha untuk membangun relasi yang membahagiakan dengan melihat liyan sebagai yang tidak terpisahkan dari Aku religius. Mengapa? Karena kalau Aku religius melihat liyan sebagai orang yang terpinggirkan maka halnya tidak akan mendatangkan suatu kebahagian, akan tetapi kalau Aku religius melihat liyan sebagai bagian dari kehadiran Aku maka akan muncul suatu relasionalitas yang membahagiakan.

Aku religius harus selalu melihat liyan dalam relasionalitas sebagai orang yang patut di hormati sehingga ketika liyan berpartisipasi dalam Aku religius, Aku religius dapat menerimanya sebagai bagian yang juga mengukuhkan kehadiran Aku religius. Membahagiakan liyan identik dengan membahagiakan diri sendiri dan berada dalam wilaya ontologis sehari-hari. Wilaya ontologis berarti wilaya hidup manusia sebagaimana adanya. Manusia sejauh ada di sekitarku adalah produsen nilai yang harus Aku hormati keberadaanya dan kehormatannya. Liyan itu produsen nilai, sebab mengenai nilai sikap hormat berasal dari kehadiran orang lain di sekitarku (Riyanto, 2013:96).

Pendapat di atas sangat baik  sebab kebahagiaanku juga adalah kebahagiaan liyan. Di dalam liyan Aku religius mendapat suatu makna kebahagiaan yang sejati. Mengapa? Karena kebahagiaan liyan juga identik dengan kebahagiaan Aku religius sendiri yang mana di saat Aku religius mendapatkan kebahagiaan karena membangun relasi yang harmonis dengan liyan di sinilah muncul keindahan dari kebahagian yang sejati.

Relasionalitas Aku religius dan liyan juga merupakan relasi yang benar. Mengapa? Karena dalam relasionalitas tersebut Aku religius dan liyan saling berpartisipasi dalam kehadiran masing-masing sehingga mencapai suatu kebenaran dalam relasionalitas. Relasionalitas yang benar itu adalah ketika Aku religius dan liyan saling menghadirkan diri di dalam kehadiran Aku dan kehadiran liyan serta tidak mengucilkan yang lain tetapi  hadir sebagai satu kesatuan yang saling mengukuhkan.

Relasionalitas Aku religius dan liyan merupakan relasi yang benar karena Aku religius berelasi dengan liyan yang juga memiliki keakuannya. Keakuan dari liyan itulah yang membuat Aku religius bisa dapat berelasi dengan liyan. Aku religius menjadi sempurna ketika berelasi dengan aku yang lain dan aku yang lain itu ialah liyan. Liyan adalah mereka yang memiliki Aku sehingga liyan itu tidak bisa disebut sebagai bagian yang terpisahkan dari Aku religius. Liyan ialah bagian dari Aku religius yang saling melengkapi dan saling mengukuhkan.

Kebenaran dalam relasionalitas Aku religius dan liyan merupakan suatu bentuk relasi yang memikat dan juga memesona. Halnya demikian karena ketika Aku religius berelasi dengan liyan Aku religius menghadirkan diri dalam kepenuhan yang memikat sehingga relasi tersebut bisa menjadi suatu relasi yang benar.

Post a Comment for "Relasionalitas Aku "Religius" dan Liyan"