Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ETIKA SIARAN DALAM MENYONGSONG PILKADA SERENTAK

 

Sumber: kpi.go.id

Berbicara tentang etika, khalayak akan memiliki pandangan mengenai kesopanan, kesantunan, tata krama, aturan, kaidah, jalur, koridor dan beberapa asumsi yang mendukung tentang etika. Jika didefenisikan etika adalah suatu sikap/ perbuatan yang mengandung kesopanan dalam menjalani hidup sebagai khalayak luas, etika sering diperhadapkan dengan tindakan yang dianggap terpuji oleh banyak khalayak sehingga etika dianggap sebagai sebuah koridor yang dapat memberikan rasa santun terhadap realita yang terjadi di masyarakat sehingga etika sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat karena wibawanya yang sangat menjadikannya sebagai norma yang harus dipatuhi oleh semua lapisan masyarakat.

Dalam dunia broadcasting atau penyiaran, etika sangat dijunjung tinggi. Mengapa ? Karena regulasi penyiaran Indonesia yang diundang-undangkan melalui Undang-Undang No. 32 tahun 2002 yang mengatur tentang regulasi penyiaran serta diperkuat dalam P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) yang mengatur mengenai konten serta pengawasan siaran itu sudah jelas dan tidak bisa dipungkiri lagi. Karena etikalah, siaran terus memperhatikan konten dan melakukan pengawasan secara terus-menerus agar siaran yang dibangun menjadi sehat dan tidak terkontaminasi oleh hal manapun. Dengan regulasi siaran yang telah diatur maka siaran di Indonesia harus menjadi pionir dalam mencerdaskan bangsa termasuk para khalayak baik pemirsa TV maupun pendengar Radio yang terus meningkat tajam seiring dengan perkembangan penyiaran membuat etika seakan mulai ditinggalkan sebagai fungsi pengawasan. Mengapa demikian? Karena etika penyiaran yang menjadi momok bagi insan penyiaran dalam melakukan fungsi pengawasan serta edukasi terhadap khalayak, serta khalayak tidak terlalu memberi perhatian khusus mengenai fungsi pengawasan terhadap konten siaran yang disajikan oleh media-media penyiaran. Etika siaran juga dilakukan karena melalui etika siaran, khalayak mulai terbangun sebuah pemikiran dalam fungsi pengawasan penyiaran yang seharusnya menjadi sebuah kekuatan dalam membangun fungsi pengawasan sehingga khalayak lebih melek lagi terhadap media penyiaran sehingga mereka (baca: khalayak) mampu membedakan mana yang seharusnya menjadi referensi dan mana yang menjadi propaganda atau tidak menyehatkan khalayak sehingga tercipta pemahaman yang bagus mengenai etika siaran itu.

Di tahun politik 2020 saat ini, Indonesia akan menghadapi Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak yang digelar di beberapa daerah. Dalam situasi pandemi global Covid-19 media penyiaran akan kembali naik dari segi rating (baca: jumlah penonton) yang meningkat karena penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat diterapkan dalam masa-masa kampanye. Media ini akan melejit lebih eksis lagi karena dari segi iklan pasangan Calon Kepala Daerah (Cakada) akan berkampanye melalui iklan-iklan baik iklan TV, radio bahkan media-media mainstream lainnya, itu semua dilakukan semata untuk merebut simpatik pemilih dalam menyukseskan kontestasi Pilkada Serentak 2020. Semua media penyiaran akan dibanjiri oleh berita-berita seputar Pilkada Serentak 2020 bahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan melakukan pengedukasian terhadap khalayak yang menjadi wajib pilih untuk melakukan edukasi terhadap khalayak sehingga mereka melek terhadap hajatan politik di tingkat daerah masing-masing. Etika siaran sangat diperlukan bahkan menjadi hal yang mutlak dalam menyukseskan Pilkada serentak 2020 saat ini. Karena melalui etika siaran, para penyelenggara pemilu termotivasi untuk melakukan pengawasan media. Salam Penyiaran!

Penulis: Ben Azel Salu (Pemerhati Penyiaran, Warga Toraja)

Post a Comment for "ETIKA SIARAN DALAM MENYONGSONG PILKADA SERENTAK"