Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

FENOMENA SALAM SEHAT

 


Salam Sehat ! Sapaan ini selalu terngiang di telinga masyarakat sekarang ini, sapaan yang begitu akrab memulai sebuah kegiatan, pertemuan bahkan di tempat keramaian umum, sapaan yang begitu menggugah hati. Salam ini begitu luar biasa diterima oleh masyarakat terutama di situasi saat ini yang mengharuskan untuk “Stay at Home” karena pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat untuk selalu memelihara kesehatan, baik kesehatan diri bahkan kesehatan di lingkungan sekitar. Bagi penulis salam ini sangat membuat keadaan lingkungan yang arif dan bijak, karena melalui salam sehat masyarakat teringat akan kesehatan yang dijalaninya. Bukan pada saat ini dalam perspektif pandemi global corona, tetapi salam sehat selalu membawa masyarakat untuk hidup rukun dan damai dalam bingkai kebhinekaan.

Salam sehat mulai diperkenalkan di Indonesia ketika wabah Covid-19 mulai merambah di Indonesia. Salam yang begitu luar biasa ketika pribadi menyapa pribadi lainnya. Salam sehat dapat dikatakan dan dapat juga diperagakan seperti salam namaste (salam ala masyarakat Jepang), saling membungkukkan badan, mengangkat tangan, salam siku dan salam-salam yang tidak bersentuhan badan. Itu merupakan simbol yang dilakukan untuk menyapa pribadi lainnya. Salam ini juga diperkenalkan ketika Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla mengadakan rapat bersama Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dengan melaukan salam kaki, ketika Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin bertemu dengan Jusuf Kalla di Istana Negara dengan melakukan salam namaste dan beberapa pejabat dan tokoh negara lainnya di Istana Kepresidenan Jakarta. Simbol-simbol ini memunculkan makna komunikasi baru yang terjadi dalam pandemi Covid-19.

Sebelum salam sehat ini booming dimana-mana, masyarakat umum khususnya masyarakat Indonesia memberikan salam melalui jabat tangan, tos, cium pipi kanan-pipi kiri (cipika-cipiki) bahkan berpelukan. Simbol yang penulis kemukakan adalah simbolisasi dalam menyapa untuk menyatakan kebersamaan, keakraban, keramahan bahkan kekeluargaan yang membuat seseorang lebih mengutamakan kasih sayang kepada sesama baik keluarga, teman dan relasi lain yang dijumpainya. Tetapi sekarang, simbol keakraban, kasih sayang, kebersamaan dan kekeluargaan terputus karena virus corona yang membuat potensi penularan corona ketika salam ini dilakukan oleh pribadi lepas pribadi. Bukan simbolnya yang dilihat tetapi hubungan antar pribadi selalu terikat dan terjalin dengan baik walau tak bersentuhan dengan orang lain karena dampak dari Covid-19.

Jika melihat konteks yang terjadi akibat dari corona, Salam sehat ini merupakan salam yang wajib dilakukan oleh semua orang, tanpa melihat suku, agama, ras, antargolongan. Ini dikarenakan salam ini tidak merugikan banyak orang, justru menguntungkan bagi semua. Salam ini selalu digaungkan, diperdengarkan bahkan dilakukan ketika menyapa banyak orang, sehingga pemahaman masyarakat memahami bahwa salam sehat menjadi salam yang terus dilakukan selama pandemi Covid-19 dan New Normal seperti saat ini. Salam tersebut sangat erat kaitannya dengan protokol kesehatan, yaitu jaga jarak (Physical Distancing) antar pribadi, karena salam ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam pemutusan penyebaran mata rantai Covid-19. Salam sehat janganlah dilihat dari pujian terhadap orang lain, eksistensi terhadap diri sebagai mencari ketenaran dari orang lain, jangan pula dijadikan simbol untuk pengaruh negatif dalam pandemi global corona, tetapi jadikan salam ini sebagai komitmen untuk tetap menjaga kesehatan demi memutus penyebaran virus yang berasal dari kota Wuhan, Tiongkok yang masih mewabah di-seantero dunia.  Salam Sehat !

Penulis: Ben Azel Salu (Mahasiswa Pascasarjana IAKN Toraja)

Post a Comment for "FENOMENA SALAM SEHAT"