Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENYONGSONG ERA DIGITALISASI PENYIARAN TELEVISI INDONESIA

 



   Jika khalayak diperhadapkan dengan digitalisasi pasti pemikirannya tertuju pada sebuah sebuah keadaan yang yang serba cepat, tepat sasaran, akselerasi informasi yang akurat dan jelas, serta kekuatan informasi publik yang kredibel serta transparan bahkan digitalisasi juga diartikan sebuah langkah dan strategi untuk menyesuaikan sebuah keadaan di era millenial seperti sekarang ini. Secara etimologi, digitalisasi berasal dari kata “digital” yang dapat diartikan sebagai biner 0 dan 1 menurut keilmuan elektronika yang diungkapkan dalam “gerbang logika”. Tetapi jika dilihat dari perspektif pertelevisian, digitalisasi adalah sebuah keadaan/ penyesuaian terhadap perkembangan siaran televisi yang terjadi di era yang menaunginya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa digitalisasi merupakan sebuah keadaan yang menuntut kecepatan, akselerasi, transfer, kredibel serta keakuratan informasi yang beredar ditengah-tengah khalayak.

Sebelum pemberlakuan era digitalisasi penyiaran televisi Indonesia, akses penyiaran televisi masih bisa dinikmati oleh khalayak luas karena perangkat berupa pesawat televisi bisa dijangkau oleh semua khalayak, cukup modal antena TV dan pesawat TV khalayak bisa menikmati tayangan televisi tanpa batas dan tak ada kendala yang kompleks. Wacana era digitalisasi ini mulai digaungkan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sejak tahun 2012 silam, seiring dengan perkembangan dunia penyiaran televisi kala itu. Ada pro dan kontra yang terjadi sehingga muncullah penolakan dari khalayak terhadap kebijakan ini. Sosialisasi besar-besaran dilakukan oleh Kemenkominfo untuk mengubah paradigma khalayak untuk merubah pemahaman khalayak terhadap sistem penyiaran yang disaksikannya. Maka dari itulah, konvergensi media dari siaran analog ke digital gencar disosialisasikan pemerintah, sehingga khalayak memahami arti sesungguhnya konvergensi media.

Siaran analog memiliki keunggulan yang mudah dijangkau oleh khalayak oleh karena perangkat yang bisa dijangkau oleh kantong khalayak, tetapi memiliki kelemahan yaitu kualitas siaran yang kurang berkualitas serta rentan terhadap gangguan frekuensi. Sedang siaran digital memiliki keunggulan dari sisi kualitas gambar yang dihasilkan, suara yang jernih dan tidak rentan terhadap gangguan frekuensi serta kualitas siaran yang baik. Tetapi siaran digital memiliki kelemahan terutama dari sisi perangkat, karena perangkat berupa decoder yang tidak mampu dijangkau isi kantong khalayak luas karena harga jual yang tinggi.

Akhir-akhir ini, digitalisasi tersebut kembali digaungkan oleh Kemenkominfo, sejumlah strategi dilakukan untuk mewujudkannya. Dalam pernyataan yang dilontarkan Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G. Plate melalui Metro TV bahwa digitalisasi ini telah menjadi Prolegnas (Prioritas Legislasi Nasional) 2021 melalui undang-undang cipta kerja (omnibus law) yang sementara digodok oleh DPR-RI serta statement Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Agung Supriyono melalui wawancara di stasiun yang sama yang mengatakan bahwa KPI akan terus berjuang untuk memberikan edukasi kepada khalayak mengenai digitalisasi ini, dan diharapkan tahun 2022 akan mulai diterapkan di Indonesia, jika belum maka akan dimulai pada tahun 2025. Ketika hal ini diterapkan maka UU no. 32 Tahun 2002 akan direvisi oleh legislatif untuk menyesuaikan sistem penyiaran yang ada di Indonesia dan secara global. Kehadiran digitalisasi penyiaran televisi Indonesia akan diharapkan menjadi sebuah tonggak pertelevisian di Indonesia dalam menyampaikan informasi yang benar, akurat dan kredibel menuju Indonesia yang maju dan berkeadilan. Semoga !

Penulis : Ben Azel Salu, S.I.Kom (Pemerhati penyiaran, Warga Toraja)

Post a Comment for "MENYONGSONG ERA DIGITALISASI PENYIARAN TELEVISI INDONESIA"