Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sedewasa Apapun Kita, Bagi Seorang Ibu Kita Tetap Anak Kecilnya yang Manja

 


Sedewasa apapun kita, setua apapun kita, seberapa banyaknya pun anak kita, seorang ibu masih menganggap dan memperlakukan kita layaknya anak kecilnya dahulu yang manja dan menjadi curahan kasih sayangnya. Itulah Cinta Kasih seorang ibu. 

Sudah 2 tahun ini emak ikut tinggal di rumahku. Emak yang sudah sepuh dan berusia tujuh puluh tahun lebih. Dulu emak tinggal berdua dengan bapak di desa, tapi semenjak bapak pergi mendahului emak, aku gak tega meninggalkannya sendirian di rumah di desa, ku ajak emak ke rumah ku di kota.

Awalnya mas Ardi, kakak tertua ku sempat mengajak emak untuk tinggal bersamanya tapi gak lama karena istrinya keberatan dengan emak yang makin hari, makin rewel dan banyak maunya.

"Embakmu kadang sudah nahan hati dengan kelakuan emak dik, cerewet nya minta ampun, " Keluh mas Ardi ketika mengantarkan emak ke rumah ku.

Semakin senja tingkah emak seolah melampiaskan rasa ketika muda dulu, emak dahulu terlalu menurut pada bapak dan gak pernah ada maunya, sekarang ketika tua rasa yang dahulu ia tahan, dengan mudah ia ungkapkan.

"Nasi goreng pakai bumbu instan kaya gini, gak enak"

"Pakaian jangan di laundry, gak bersih, enak nyuci sendiri"

"Anakmu itu jajan terus, gak sehat, entar batuk"

"Untuk apa beli hiasan dinding, buang-buang uang"

"Kalau hari minggu, jangan kesiangan bangunnya, jangan jadi pemalas"

Setiap hari selalu saja ada omelan emak mewarnai hari-hariku, ketiga anakku kadang kena sasaran omelan emak, ada-ada saja yang salah di matanya.

"Dengarkan saja, dik gak usah di jawab, wajar orang tua, " Nasehat suamiku ketika aku mengeluhkan sikap emak yang kadang menjengkelkan.

"Kadang aku emosi juga mas, kalau lama-lama kaya gini"

Suamiku tersenyum dan mencubit pipiku.

"Puji Tuhan, kita masih di beri kesempatan merawat orang tua, jangan sampai kelak kita menyesal ketika emak sudah tiada"

Aku pun terdiam, benar juga....

=============================

Hari senin pagi, suamiku masih dinas di luar kota, kebetulan yang bantu di rumah terlambat datang. Anak-anak pun rewel, mandi pun harus ribut, sarapan mesti berantem dan pakai seragam pun lambatnya setengah mati.

"Ayo nak, buruan nanti mama terlambat, "Ucap ku gusar. Jam 8 pagi ini ada rapat di kantor.

Semalam aku gak enak badan, batuk dan pilek mungkin kecapean karena sudah 3 hari begadang mengerjakan laporan.

"Nak, cangkul kita di mana? " Tanya emak ketika aku sedang memakaikan sepatu si bungsu.

"Gak tau mak," tanya bik inah saja di belakang, jawab ku. Ada-ada saja emak ini di kala orang sibuk pagi-pagi, dia malah ikut sibuk nanyain cangkul.

"Kata bik Inah, dia gak tau," Ucap emak lagi.

"Cari di belakang mak, " Jawabku kesal, apa mendesaknya coba mencari cangkul di jam genting seperti ini.

"Rani, ayo nak buruan, " Aku memanggil putriku yang sejak dari tadi tak keluar kamar. Waktu semakin bergerak meninggalkan angka 7 pagi. Aku pun semakin gelisah.

"Bentar ma, masih lagi nyari buku PR, semalam gk ketemu, " Jawab Rani.

"Mama tunggu 5menit, adik-adikmu sudah di mobil semua, kalau kamu belum keluar juga kami tinggal"

"Nak, kamu cari dulu cangkul, toh kamu juga belum pergi, " Ucap emak gusar.

Aku bergeming, malas menanggapi emak.

"Nak, ingat dulu di mana kamu naruh cangkulnya, emak mendesak, raut wajahnya pun terlihat kesal.

Rani pun berlari keluar rumah dan langsung masuk kedalam mobil.

"Aku dan anak-anak berangkat ya, mak, " Aku mengambil punggung tangan emak dan menciumnya cepat.

Emak lalu menarik lenganku, " Cari dulu cangkulnya, " Ucap emak

"Entar sore ya, mak, " Aku tersenyum berusaha sabar.

"Emak mau sekarang, " Bentak emak.

"Mak, aku ini sudah terlambat, hari ini ada rapat kalau persentasi ku gagal, bisa gawat, emak jangan buat masalah dong, untuk apa coba nanya cangkul sekarang? Wajar kalau istri mas Ardi gak betah sama emak kalau emak rewel kaya gini, " Aku langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya kesal.

Sekilas ku lihat emak terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.

Jantung ku berdetak cepat seolah ada yang mengejar, napasku terasa sesak dan kedua mataku memanas, baru kali ini aku membentak emak, sebelumnya aku berhasil menahan diri dari kerewelan emak namun kesabaran ada batasnya, meledak sudah amarah ini.

"Mama jangan kasar gitu dong sama nenek," ucap Rani putriku.

Aku diam.

"Biasanya kan mama sabar, " Toni putra ke 2 ku menimpali.

"Nenek bilang, dulu waktu kecil mama orangnya rewel, kalau nanya gak bisa stop, tapi nenek suka, itu artinya mama pintar terus mama juga kalau ada mau gak bisa di tunda dan nenek bilang itu bagus, tandanya mama orangnya gigih, " Ucap Rani pelan.

Aku terdiam kehilangan kata-kata, bukankah kini sifat emak dan aku sama, kami sama-sama rewel dan banyak maunya, tapi hanya ada 1 yang membedakan, emak menganggap sikapku ini sebuah anugrah dan dengan senang hati menerimanya sedangkan aku menganggap emak sebagai beban.

Tak ada pembicaraan lagi di mobil hingga ke 3 anakku turun dan masuk ke gerbang sekolah. Ke-3nya melambaikan tangan, emak yang bagiku rewel itu adalah kesayangan anak-anak ku.

Aku menepuk setir mobil berkali-kali, 10 menit lagi pukul 8, bila memacu kendaraan dengan cepat maka aku bisa sampai kantor tepat waktu. Namun ada rasa yang mengganjal di hati, penyesalan.

Baru 2 tahun emak di rumah, emak pun tak sakit-sakitan, masih bisa makan, minum dan membersihkan diri sendiri, hanya sedikit rewel saja. Tapi aku anaknya yang selama 9 bulan di kandungnya, 2 tahun di susuinya, belasan tahun di rawat dan di sekolahkan hingga akhirnya menikahpun masih tetap menyusahkan, begitu mudah aku menganggap emak sebagai beban.

Tubuh ku bergetar dengan napas tersendat, tumpah sudah air mata ini, emak.

Aku pun segera memarkirkan mobil di garasi dan berlari ke kamar emak, persetan dengan persentasi dan rapat, aku harus meminta maaf kepada emak, paling-paling pekerjaanku di ambil alih teman kantor, dan tahun ini gak dapat bonus, itu semua gak penting, hati emak lebih berharga dari apapun, takkan ku biarkan retak dan hancur.

Ke dua mataku memandang kamar emak yang kosong, kemana emak, aku berlari ke dapur.

"Mana emak bik, " Tanyaku pada bik Inah yang tengah mencuci piring di dapur.

"Di halaman belakang, bu"

Segera aku ke halaman belakang rumah di mana nanya tanaman emak tumbuh subur. Emak sedang menggali sesuatu dengan pisau kecil, ketika aku menghampirinya

"Lagi apa mak, " Tanyaku.
"Gak ngantor?" Emak menoleh dan tersenyum. Aku menggelengkan kepala, " Gak enak badan, aku berbohong.

"Emak tadi mau minta cangkul karena mau gali jahe merah ini, semalam emak dengar kamu batuk gak berhenti jadi emak mau buat wedang jahe biar bisa kamu minum sebelum kamu berangkat kerja, makanya emak buru-bu rumah tadi, " Kata emak yang masih menggali tanah dengan pisau kecil.

Aku terdiam.

"Emak gak berani pakai pisau dapur kamu, kan pisaunya mahal, rusak kalau kena tanah, makanya tadi cari cangkul tapi gk ketemu juga"

Ah bodoh, apa ini, dadaku kian sesak.

"Untung ketemu pisau kecil ini peninggalan bapakmu dulu, ini emak sudah dapat banyak jahe nya, " Emak menunjukkan 5 ruas jahe merah di telapak tangannya. "Kamu istirahat lah, nanti wedang jahe nya emak antar ke kamarmu"

Ya Tuhan, ya Tuhan berkali-kali aku menyebut nama-Nya.

Duhai hati, alangkah mudahnya setan merasuki diri, berapa rapuhnya pertahanan diri, durhaka lah aku yang telah melukai hati wanita baik ini.

Aku pun segera berlari memeluk tubuh kurus emak.

"Maafkan aku, mak, maafkan, aku salah sudah membentak emak"

Emak memegang pundakku dan tersenyum, "Gak apa" Emak kembali memelukku dan menepuk pundakku, " Istirahatlah, kamu pasti lelah", bisik emak.

Setiap orang tua pasti akan sangat bahagia menghabiskan waktu merawat anaknya namun sebaliknya tak semua anak memiliki ketulusan dalam merawat orang tuanya. Walau hanya hitungan tahun.

Itulah ibuku, ibumu, ibu kita.

Sebesar apapun kita, setua apapun kita, seberapa banyaknya pun anak kita, seorang ibu masih menganggap dan memperlakukan kita layaknya anak kecilnya dahulu yang manja dan menjadi curahan kasih sayangnya. Itulah Cinta Kasih seorang ibu.

Semoga Tuhan memberikan ibu kita

Sumber: LuvLie Simanjuntak

Post a Comment for "Sedewasa Apapun Kita, Bagi Seorang Ibu Kita Tetap Anak Kecilnya yang Manja"