Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jika Anda Berbicara SAMPAH, Jangan Harap Anak Anda Akan Bersikap Sopan

 


Saat ini, mulai ramai diperbincangkan istilah 'Toxic Parents'. Banyak orang yang vokal menyuarakan tentang bagaimana mereka memiliki orang tua yang suka membentak, mengata-ngatai mereka dengan perkataan yang tidak sepantasnya, atau bahkan menggunakan kekerasan fisik untuk melampiaskan emosi.

Orang-orang ini kemudian melabeli orangtua yang suka membentak, menggunakan kekerasan fisik, dan mengata-ngatai anak dengan kata-kata yang tidak pantas dengan istilah 'Toxic Parents'.

Nah, sebenarnya, apa dan bagaimana sih, toxic parents itu? Apakah benar, toxic parents adalah orang tua yang selalu memakai kekerasan ketika melampiaskan emosi kepada anak?

DEFINISI TOXIC PARENTS

Istilah Toxic Parents saat ini rasanya sudah tidak asing di telinga. Sudah mulai banyak orang yang menggunakan istilah tersebut.

Toxic Parents sendiri secara bahasa artinya orang tua yang "beracun". "Beracun" di sini maknanya segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tua berpotensi menyakiti sang anak, terutama secara mental. Dengan begitu, dapat ditarik kesimpulan bahwa toxic parents adalah orang tua yang menyakiti sang anak dengan segala sesuatu yang dilakukannya, seperti mengatur anak sesuai dengan kemauannya tanpa memedulikan pendapat, perasaan, dan kemauan si anak.

Bagaimana sepasang orang tua bisa dikategorikan sebagai 'toxic parents'?

1. PERILAKU "self-centered"

Orang tua cenderung egois, narsistik, dan mungkin tidak peduli dengan apa yang si anak rasakan dan butuhkan. Mereka selalu mengedepankan dirinya sendiri apabila si anak mengutarakan keinginan tertentu. Mereka tidak pernah mau mendengarkan pendapat dari sang anak. Hal ini mungkin sama seperti situasi, "Terus Mama sama Papa gimana? Kan kami masih orang tua kamu, kamu wajib lho dengerin kami."

2. MENGGUNAKAN KEKERASAN FISIK DAN VERBAL

Ketika marah, orang tua biasanya memukul, berteriak, dan mengancam sang anak. Atau pada beberapa kasus, orang tua tidak menggunakan kekerasan fisik ketika melampiaskan emosi pada anaknya, namun menggunakan kekerasan verbal yang lebih "halus" dari kekerasan fisik, seperti pengalihan kesalahan, mendiamkan sang anak dengan melakukan silent treatment, mengatai anak dengan perkataan yang tidak pantas, dan gaslighting (perilaku membalikkan ucapan agar sang lawan bicara mempertanyakan kembali tindakannya sehingga si lawan bicara merasa bersalah dan menganggap dirinya adalah sumber dari permasalahan).

3. MENARUH EKSPETASI BERLEBIHAN

Orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, hal itu sering kali disalahartikan sebagai memaksakan kehendak dan menuntut anak untuk mengikuti apapun keinginan dan ekspektasinya.

Saat seorang anak mulai memilih cita-citanya sendiri, orang tua akan membuyarkan ekspektasi anak akan cita-cita tersebut dengan menyampaikan beragam stigma negatif terkait cita-cita yang dipilih anaknya. Misal, sang anak bercita-cita menjadi seniman, orang tua akan memberitahu anaknya berbagai pandangan dan komentar negatif seputar seniman dan memaksa sang anak untuk mengikuti apa yang orang tua inginkan.

4. MENGONTROL PERILAKU ANAK

Orang tua seringkali membatasi kebebasan berpendapat sang anak. Mereka juga kerap kali mengganggu privasi anak dan tidak membiarkan anaknya membuat keputusan sendiri, sedewasa apapun sang anak. Kadang, orang tua juga bersikap terlalu kritis dengan seringkali mengkritik keputusan yang dibuat anaknya.

5. MENYALAHKAN ANAK

Apabila keluarga tengah diterpa banyak masalah, target utama yang akan disalahkan adalah anak. Orang tua akan mengatakan anaknya adalah penyebab dari segala masalah yang menimpa keluarganya. Padahal, penyebab setiap masalah tentu berbeda dan belum tentu anak adalah dalang dari semua permasalahan yang menimpa sebuah keluarga.

AKIBAT DARI TOXIC PARENTS

Toxic parents akan berakibat negatif pada kesehatan mental anak. Anak akan jadi lebih mudah stres, berpotensi tinggi mengalami gangguan kecemasan, dan bisa saja mengalami depresi. Selain itu, anak juga memiliki kemungkinan untuk menjadi pembangkang dan memiliki perilaku yang sama dengan orang tuanya ketika nanti menjadi orang tua.

CARA MENGHADAPI TOXIC PARENTS

Berikut hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi orang tuamu bila mereka termasuk ke dalam kategori toxic parents:

1. MENETAPKAN BATASAN

Katakan apapun pendapatmu terhadap segala keputusan orang tua yang berkaitan dengan dirimu. Beranilah untuk mengatakan "tidak" disertai dengan alasan yang jelas dan masuk akal ketika keinginan orang tua tidak sejalan dengan keinginanmu.

2. MEMBUAT KEPUTUSAN BERSAMA

Diskusikan setiap keputusan yang kamu buat dengan orang tuamu, sampaikan pada mereka bahwa kamu membutuhkan masukan yang terbaik untuk setiap keputusan yang kamu buat, bukan masukan yang otoriter dan malah membatasi dirimu dalam membuat suatu keputusan.

3. MENCARI KESIBUKAN DI LUAR RUMAH

Omongan-omongan jelek dan tidak pantas dari toxic parents berpotensi menyakiti hatimu dan membuat kamu rendah diri. Maka dari itu, akan lebih baik jika kamu mencari kesibukan di luar rumah seperti mengikuti ekstrakurikuler di sekolah atau mengikuti organisasi. Dengan begitu, pikiranmu akan terdistraksi dan tidak lagi terus-menerus memikirkan omongan orang tuamu.

Nah, itu dia tadi tentang apa dan bagaimana sebenarnya toxic parents itu. Sebagai anak, kita tidak bisa memilih siapa dan orang seperti apa yang akan menjadi orang tua kita. Yang bisa kita lakukan hanya menerima, karena mengubah sikap dan sifat seseorang itu sulit, apalagi orang tua.

Namun, jika dirasa sudah tidak sanggup menghadapi toxic parents, carilah pertolongan pada ahli (psikolog) untuk menemukan solusi dan jalan agar hubungan anak dengan orang tua bisa menjadi lebih baik.

Referensi :
https://www-kompasiana-com/annisalarasati4767/5fdaf9b98ede48143408bd63/toxic-parents-ketika-kasih-sayang-orang-tua-justru-menjadi-racun (Diakses pada 17 Desember 2020)

Post a Comment for "Jika Anda Berbicara SAMPAH, Jangan Harap Anak Anda Akan Bersikap Sopan"